Pemerintah Ralat Pernyataan 1.800 Ton Emas di Bawah Bantal, Tegaskan Tak Akan Ambil Alih Kepemilikan
MEDIALOKAL.CO — Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan istilah "di bawah bantal" yang diucapkan Menko Airlangga Hartarto merupakan gambaran untuk emas batangan yang masih disimpan secara konvensional di rumah tangga. Angka 1.800 ton tersebut adalah akumulasi kepemilikan emas masyarakat yang terbentuk lintas generasi dan berbeda dengan cadangan emas nasional.
"Sebagian emas tersebut hingga kini masih disimpan secara pribadi atau secara konvensional di rumah tangga," ujar Haryo dalam keterangan resmi, Sabtu (22/8).
Nilai Emas Masyarakat Capai US$252 Miliar
Berdasarkan perkiraan pemerintah, total emas yang dimiliki masyarakat secara pribadi bernilai sekitar US$252 miliar. Angka ini muncul dari total perkiraan cadangan emas Indonesia yang mencapai 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton per tahun.
Haryo menegaskan besaran tersebut bukan tambahan terhadap cadangan tambang nasional, melainkan potensi aset yang bisa dikelola lebih produktif. Pemerintah melihat peluang ini sebagai fondasi pengembangan ekosistem bullion nasional yang lebih efisien, likuid, dan transparan.
Ilustrasi 20 Persen Hanya Simulasi, Bukan Kewajiban
Dalam pernyataannya, Airlangga sempat menyinggung potensi pertumbuhan jika 20 persen dari emas masyarakat berpindah ke instrumen keuangan perbankan syariah maupun Pegadaian. Namun, Haryo menegaskan angka tersebut murni ilustrasi dampak ekonomi, bukan target yang dipaksakan.
"Pemerintah tak bermaksud mengambil alih atau mengalihkan kepemilikan emas masyarakat. Keputusan untuk menyimpan, memperdagangkan, maupun memanfaatkan emas tetap menjadi hak masyarakat," tegasnya.
Peran negara, lanjut Haryo, hanya sebatas membangun ekosistem dan menyediakan pilihan instrumen yang memberi nilai tambah. Langkah ini juga menjadi bagian dari hilirisasi sektor pertambangan dan energi.
Airlangga Sebut Potensi 1.800 Ton Saat Peluncuran IBMA
Pernyataan awal Airlangga muncul saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Kamis (20/8). Ia menyebut saat ini Pegadaian mencatatkan kepemilikan sekitar 153 ton emas senilai US$20 miliar, sementara Bank Syariah Indonesia (BSI) mengelola sekitar 20 ton emas.
"Emas yang ada di bawah bantal itu ada 1.800 ton. Nah kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, US$252 miliar," kata Airlangga saat itu.
Sebagai perbandingan, Airlangga menyebut Amerika Serikat memiliki stok emas sekitar 8.133 ton, China 2.331 ton, dan India sekitar 880 ton. Dengan potensi lokal yang besar, pengembangan bullion bank dinilai mampu menyerap simpanan emas masyarakat ke dalam sistem keuangan formal yang lebih aman dan terintegrasi.
Investasi dan pengelolaan aset mengandung risiko. Masyarakat diharapkan memahami karakteristik instrumen sebelum memutuskan memindahkan kepemilikan emasnya.