Harga Emas Anjlok 1,4% Usai Inflasi AS Sesuai Ekspektasi, Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat
JAKARTA — Tekanan jual kembali menghantam pasar logam mulia global. Harga emas spot terpantau merosot 1,4% ke level US$ 4.592,97 per ons. Kontrak berjangka emas AS ikut terkoreksi 0,9% ke posisi US$ 4.653,30 per ons.
Koreksi ini terjadi hanya sehari setelah emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 14 Mei lalu. Pelemahan dipicu rilisnya data Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed.
Data PCE Hampir Sesuai Prediksi, Dolar AS Menguat
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi meningkat 3,7% secara tahunan hingga Juli. Angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yakni 3,6%.
Meski selisihnya tipis, data tersebut cukup mendorong indeks dolar AS menguat 0,3%. Dolar yang perkasa otomatis membuat emas lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lainnya.
Kepala Strategi Logam Senior Zaner Metals, Peter Grant, menilai pergerakan ini masih dalam koridor normal. "Pergerakan harga emas hingga data hari ini hanyalah aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai ekspektasi, jadi saat ini kita sedang berkonsolidasi dalam kisaran harga kemarin," ujarnya.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Naik ke 38%
Data inflasi yang sedikit panas langsung mengubah ekspektasi pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada bulan depan naik menjadi 38%, meningkat dari 36% sebelum data dirilis.
Mayoritas pelaku pasar masih meyakini The Fed akan bertahan. Sebanyak 62% peluang menunjukkan bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Investor kini menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pekan ini untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter jangka pendek.
Target Harga Emas US$ 5.000 Masih Terbuka
Di tengah tekanan jual jangka pendek, optimisme terhadap tren emas jangka panjang justru tetap terjaga. Peter Grant menegaskan koreksi saat ini tidak mengubah arah pergerakan harga ke depan.
"Saya pikir tren kenaikan harga emas mulai menguat kembali. Jadi saya melihat potensi kembali di atas US$5.000 tahun ini," kata Grant. Ia juga memperkirakan emas masih berpeluang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada kuartal II 2027.
Ketegangan Selat Hormuz Ikut Warnai Pergerakan
Selain faktor moneter, harga emas juga bergerak di tengah perkembangan geopolitik Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global, kembali menjadi sorotan setelah Iran dan Oman disebut mencapai kesepakatan pembagian wilayah beserta pendapatannya.
Garda Revolusi Iran menegaskan jalur air strategis tersebut belum akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat tidak menerima persyaratan yang diajukan kedua negara. Ketidakpastian ini berpotensi menjadi katalis pengaman bagi harga emas di tengah gejolak pasar keuangan global.