Cara Batasi Gadget pada Anak: 4 Hal Penting untuk Orang Tua
MEDIALOKAL.CO — Ngaji Parenting di Pontianak, Minggu (30/8/2026), menghadirkan satu pesan yang menohok: jangan biarkan gadget menjadi "orang tua asuh" bagi anak. Kegiatan yang digelar LDII Kalbar di Masjid Khoirul Ihsan ini mengangkat tema "Batasi Gadget, Bangun Karakter Anak" sebagai ruang edukasi bagi orang tua dalam menghadapi tantangan pengasuhan di era digital.
Gadget Tidak Perlu Dijauhi Sepenuhnya
Ketua DPW LDII Kalbar, Susanto, menegaskan orang tua tidak harus menjauhkan anak dari gawai. Kuncinya ada pada tiga hal: batasan, pendampingan, dan keteladanan.
"Gadget bukan sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua memberikan batasan, pendampingan, dan keteladanan dalam penggunaannya," ujarnya.
Susanto mengingatkan agar perangkat digital tidak menggantikan peran pengasuhan. "Jangan sampai gadget dijadikan 'orang tua asuh' bagi anak-anak kita. Ini yang harus menjadi perhatian," tegasnya.
7-8 Jam Sehari: Apa yang Terjadi pada Remaja?
Psikolog Universitas Muhammadiyah Pontianak, Riszky Ramadhan, membeberkan data yang mengkhawatirkan. Remaja mendominasi pengguna internet di Indonesia dengan durasi mencapai tujuh hingga delapan jam per hari.
Menurut Riszky, setidaknya tiga fenomena muncul akibat penggunaan gawai tanpa kendali:
- Keterlambatan bicara pada anak
- Perundungan dan depresi pada remaja
- Fenomena TikTok tics
Inilah tantangan parenting di era digital yang semakin kompleks. Orang tua tidak bisa menutup mata atau sekadar memberikan larangan tanpa solusi.
Pola Asuh Otoritatif: Keseimbangan Aturan dan Kasih Sayang
Riszky mendorong orang tua mengubah pola asuh dengan menerapkan gaya otoritatif. Pendekatannya demokratis, bukan otoriter yang penuh larangan, bukan pula permisif yang serba membolehkan.
"Perlu dilakukan pola pengasuhan yang otoritatif, yakni melalui pendekatan yang demokratis. Kuncinya keseimbangan dengan orang tua membuat aturan yang tegas, menyampaikan dengan logis, penuh kasih sayang, dan membuka diskusi," jelasnya.
Selain itu, strategi detoksifikasi sesuai usia anak juga disarankan. Cara ini membantu orang tua menghadapi perilaku tantrum dengan memberikan validasi yang sesuai dengan perkembangan anak.
Kenapa Pembinaan Karakter Harus Dimulai Sekarang?
Susanto menilai hasil pembinaan karakter sejak dini baru akan terlihat beberapa tahun ke depan. Jika ingin bangsa ini tetap bertahan, pembinaan harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu anak bermasalah dulu.
"Peran orang tua sangat menentukan keberhasilan pembinaan dan pendidikan karakter anak. Namun, di era teknologi ini, di balik kemudahan juga terdapat tantangan yang cukup berat," katanya.
Pengasuhan yang sejati bukan sekadar memberi perintah. Lebih dari itu, kehadiran orang tua secara utuh yang menumbuhkan kemandirian dan karakter kuat pada anak. Batasi gawai, bangun kedekatan, dan jadilah teladan bagi buah hati.