MEDIALOKAL.CO — Pekan lalu ditutup dengan aksi jual signifikan di pasar logam mulia, dipicu pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang membuka peluang kenakan suku bunga. Koreksi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini sekadar koreksi teknis atau awal tren pelemahan?
Survei mingguan Kitco News mencatat sentimen yang terbelah. Dari 21 analis yang berpartisipasi, 48% memperkirakan harga emas akan menguat, 29% memprediksi pelemahan, dan 24% melihat konsolidasi. Di sisi ritel, optimisme menurun — hanya 59% dari 207 responden yang mengharapkan kenaikan, turun dibanding pekan sebelumnya.
Level Kritis yang Harus Diwaspadai Investor
Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, melihat momentum kenaikan emas mulai kehilangan daya dorong setelah harga menyentuh puncak US$ 4.697 awal pekan lalu. "Saya mengantisipasi penembusan di bawah level US$ 4.555, dengan penurunan berlanjut ke kisaran US$ 4.500-US$ 4.527," ujarnya.
Chandler bahkan membuka skenario lebih bearish dengan target berikutnya di level US$ 4.440 dan US$ 4.360. Menurutnya, penguatan dolar AS menjelang rilis data ketenagakerjaan akan menjadi tekanan tambahan bagi emas.
Argumen Bullish: Beban Utang AS Tak Mungkin Tolerir Suku Bunga Tinggi
Di kutub berlawanan, Senior Market Strategist Forex.com James Stanley menilai koreksi saat ini adalah fenomena jangka pendek. "Pidato Warsh dirancang untuk mengendalikan imbal hasil obligasi Treasury, bukan untuk mengambil sikap agresif. Saya tetap bullish terhadap emas," katanya.
Stanley beralasan tidak ada pembahasan kebijakan pengetatan anggaran atau pengurangan utang pemerintah AS dalam pidato tersebut. Kondisi fiskal yang longgar, menurutnya, tetap menjadi pendorong utama harga emas dalam jangka panjang.
Pandangan senada disampaikan Presiden Asset Strategies International, Rich Checkan. "Warsh akan menolak kenaikan suku bunga karena beban utang mencapai US$ 40 triliun. Semua solusi Menteri Keuangan Bessent untuk mengendalikan imbal hasil Treasury bersifat inflasioner dalam jangka panjang," tegasnya. Checkan justru merekomendasikan investor memanfaatkan momen koreksi untuk akumulasi pembelian.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Arah Selanjutnya
Sepanjang pekan ini, pasar akan mencermati serangkaian data ekonomi Amerika Serikat. Agenda dimulai Selasa dengan rilis ISM Manufacturing PMI Agustus dan data lowongan kerja JOLTS, disusul data ADP nonfarm payrolls Rabu, serta klaim tunjangan pengangguran Kamis.
Dua bank sentral juga akan mengumumkan keputusan suku bunga — Reserve Bank of New Zealand Selasa malam dan Bank of Canada Rabu.
Head of Currency Strategy investingLive, Adam Button, menilai probabilitas kenaikan suku bunga September saat ini berada di level 50/50. "Angka tersebut perlu mencapai lebih dari 80% agar kenaikan suku bunga benar-benar terjadi," ujarnya. Ia memprediksi emas akan melemah apabila data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja.
Investasi mengandung risiko.