Peter Thiel: Dari PayPal ke Palantir, Kerajaan Bisnis Rp616 Triliun
MEDIALOKAL.CO — Thiel tidak pernah masuk ke bisnis yang sudah ramai. Ia membangun PayPal saat internet belum jadi kebutuhan sehari-hari, dan menanam modal di Facebook ketika jejaring sosial itu masih di fase awal. Palantir, perusahaan analitik data yang ia dirikan, kini bernilai ratusan miliar dolar meski tak lepas dari kontroversi.
Masa Kecil di Tiga Benua
Peter Andreas Thiel lahir di Frankfurt, Jerman, sebagai putra Klaus dan Susanne Thiel. Ayahnya insinyur kimia yang bekerja di manajemen perusahaan pertambangan, sehingga keluarga ini kerap berpindah tempat tinggal.
Saat Thiel berusia satu tahun, keluarganya hijrah ke Amerika Serikat. Sebelum menetap permanen di AS pada 1977, mereka sempat tinggal di Afrika Selatan dan Swakopmund, kota kecil bernuansa Jerman di pesisir Afrika Barat Daya (kini Namibia).
Di Afrika, Thiel dan adiknya, Patrick, bersekolah di sekolah dasar berdisiplin ketat. Seragam wajib, dan hukuman berupa pemukulan telapak tangan dengan penggaris berlaku bagi siswa yang melanggar.
Pengalaman itu menumbuhkan ketidaksukaannya pada keseragaman dan sistem yang terlalu mengatur. Kelak, sikap tersebut tercermin dalam dukungannya yang kuat terhadap individualisme dan libertarianisme.
Tumbuh di Tengah Calon Silicon Valley
Ketika Thiel berusia sembilan tahun, keluarganya kembali ke Cleveland karena pekerjaan sang ayah. Setahun kemudian, mereka pindah ke Foster City, kota terencana di utara Stanford, kawasan Teluk San Francisco.
Pada masa itu, istilah Silicon Valley belum lazim digunakan. Namun kawasan tersebut sudah dihuni perusahaan teknologi besar seperti HP, Varian, Fairchild Semiconductor, dan Intel. Stanford pun berkembang menjadi universitas terkemuka di bidang sains dan teknologi.
Thiel kecil menyaksikan langsung kemunculan komputer pribadi dan berbagai inovasi teknologi. Di sekolah, ia dikenal jago matematika dan catur. Ia pernah menduduki peringkat ketujuh nasional untuk pemain catur di bawah usia 13 tahun, dan memimpin tim matematika sekolahnya di kompetisi tingkat distrik.
Thiel remaja pembaca fanatik fiksi ilmiah, terutama karya Isaac Asimov dan Robert Heinlein, serta fantasi J.R.R. Tolkien. Ia mengaku membaca ulang Trilogi The Lord of the Rings lebih dari 10 kali. Nama perusahaan yang ia bangun di masa depan pun terinspirasi dari buku itu.
Dari bacaannya, Thiel mulai memikirkan bagaimana teknologi dapat memperbaiki masa depan, sekaligus berpotensi membawa dampak buruk.
Stanford dan Lahirnya The Stanford Review
Thiel memilih Stanford University yang dekat rumah, mengingat keluarganya kerap berpindah. Ia mempelajari filsafat dan meraih gelar sarjana pada 1989.
Selama kuliah, ia terlibat berbagai perdebatan dan diskusi politik. Isu yang paling menarik perhatiannya adalah perdebatan politik identitas dan political correctness di Stanford pada era 1980-an.
Perdebatan bermula dari kritik sekelompok mahasiswa yang menyerukan penghapusan mata kuliah wajib Western Culture. Mereka menilai kurikulum itu tidak cukup beragam dan multikultural karena hanya menampilkan karya laki-laki kulit putih.
Pihak kampus membentuk tim khusus untuk mengevaluasi. Stanford akhirnya mengganti Western Culture dengan mata kuliah baru bernama Culture, Ideas and Values yang lebih menekankan keberagaman.
Keputusan itu memicu respons keras dari mahasiswa lain, termasuk Thiel. Pada 1987, bersama sejumlah mahasiswa sepaham, ia mendirikan surat kabar mahasiswa konservatif-libertarian bernama The Stanford Review.
Pendirian media tersebut mendapat dukungan finansial dan bimbingan dari Irving Kristol, salah satu pelopor neokonservatisme. The Stanford Review berupaya menantang apa yang mereka pandang sebagai bias liberal dan political correctness yang berkembang dalam perubahan kurikulum universitas.
Pola Bertaruh yang Berulang
Dari PayPal hingga Palantir, Thiel membangun kerajaan bisnis dengan satu pola yang berulang: masuk lebih awal, mengambil risiko besar, lalu menunggu taruhan itu menggandakan nilainya. Ia menjadi investor Facebook saat jejaring sosial itu masih di fase awal.
Palantir, yang mengubah data menjadi bisnis bernilai ratusan miliar dolar, membawa Thiel dari Silicon Valley ke Gedung Putih hingga medan perang. Keberhasilan itu berjalan sejajar dengan segudang kontroversi yang menyertainya.
Investasi mengandung risiko.