Pencarian

Harga Emas Rebound 1,6% ke US$ 4.180 Usai Anjlok 4%, Pasar Masih Waspada

Rabu, 30 September 2026 • 07:01:01 WIB
Harga Emas Rebound 1,6% ke US$ 4.180 Usai Anjlok 4%, Pasar Masih Waspada
Harga emas ditutup menguat 1,6% ke US$ 4.180,79 per troy ons pada Selasa (29/9/2026).

MEDIALOKAL.CO — Harga emas ditutup di US$ 4.180,79 per troy ons pada perdagangan Selasa (29/9/2026), melonjak 1,6% setelah sehari sebelumnya ambruk 4,01%. Kenaikan ini memulihkan sebagian kerugian, tetapi belum cukup mengembalikan posisi emas ke level sebelum tekanan jual besar-besaran. Pasar masih menanti data inflasi PCE dan laporan tenaga kerja AS yang bisa menentukan arah suku bunga The Fed.

Merujuk data Refinitiv, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 5 Agustus 2026 pada Senin sebelum berbalik menguat. Pada Rabu (30/9/2026) pukul 06.27 WIB, harga emas kembali melemah tipis 0,014% ke US$ 4.180,18 per troy ons.

Analis menilai kenaikan tersebut lebih bersifat teknis ketimbang perubahan fundamental. Tekanan terhadap emas masih datang dari penguatan dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi Treasury yang tinggi.

Pemicu Anjloknya Harga Emas Sejak Awal Pekan

Penurunan hampir 4% pada Senin menjadi yang terdalam sejak 10 Juni 2026. Ada empat faktor yang saling memperkuat tekanan jual:

  • Dolar AS menguat dan menguji level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir
  • Imbal hasil obligasi Treasury naik pesat
  • Harga energi melonjak sehingga memicu kekhawatiran inflasi
  • Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat

Dolar yang perkasa membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Sementara imbal hasil Treasury yang tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan bunga.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Masih Jadi Penentu

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 68% pada Oktober dan 95% pada Desember. Ekspektasi ini menjadi beban utama bagi harga emas dalam jangka pendek.

"Pergerakan hari ini hanyalah koreksi dari kerugian pada perdagangan kemarin. Saya masih berpikir ada sejumlah hambatan yang cukup signifikan bagi emas," kata Peter Grant, wakil presiden sekaligus kepala strategi logam senior di Zaner Metals, kepada Reuters.

Grant menambahkan, potensi kenaikan harga emas masih terbatas karena pasar akan fokus pada data inflasi PCE dan data ketenagakerjaan AS.

"Ekspektasi yang meningkat terhadap kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut membuat dolar tetap menguat, sementara imbal hasil obligasi masih tinggi. Saya pikir potensi kenaikan harga emas hari ini mungkin agak terbatas, dan pasar akan tetap berfokus pada data inflasi PCE besok serta data ketenagakerjaan pada Jumat," ujarnya.

Data Ekonomi AS yang Dinanti Pasar

Investor kini menantikan sejumlah rilis data penting dalam pekan ini. Data ketenagakerjaan ADP dan inflasi PCE dijadwalkan rilis pada Rabu, disusul laporan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) pada Jumat.

Data-data tersebut akan menjadi sinyal bagi arah kebijakan The Fed. Jika inflasi PCE lebih tinggi dari perkiraan, tekanan jual pada emas berpotensi berlanjut. Sebaliknya, data yang lebih lemah bisa memberi ruang pemulihan bagi logam mulia.

Posisi Emas di Tengah Suku Bunga Tinggi

Emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya cenderung berkurang dibandingkan aset yang memberikan imbal hasil ketika suku bunga berada pada level tinggi.

Bagi investor Indonesia, pergerakan emas global ini biasanya turut mempengaruhi harga emas batangan dalam negeri, baik produk Antam maupun Pegadaian. Pelemahan emas global yang berlanjut bisa menjadi momentum akumulasi bagi investor jangka panjang, sementara trader jangka pendek perlu mencermati volatilitas dolar dan data AS dalam beberapa hari ke depan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow medialokal.co

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks