MEDIALOKAL.CO — Teknologi penangkap emisi karbon dari sektor industri mampu menekan karbon dioksida hingga 95 persen, menurut hasil studi di fasilitas PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebut teknologi dari Jepang dan Taiwan itu juga menghasilkan soda ash sebagai produk sampingan yang selama ini masih diimpor Indonesia.
Hashim menyampaikan temuan tersebut dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10). Teknologi carbon capture yang diuji di Petrokimia Gresik menyasar emisi dari industri nonmigas, bukan dari sektor pertambangan atau minyak dan gas.
"Ada teknologi baru yang baru muncul. Yang ini adalah dari industri, karbon dioksida yang akibat industri, bukan karena pertambangan atau migas. Ternyata ada teknologi dari Jepang, juga dari Taiwan dan sebagainya, yang dipakai di Petrokimia Gresik," ujar Hashim.
Studi Petrokimia Gresik Tunjukkan Pengurangan Emisi 95 Persen
Menurut Hashim, angka pengurangan emisi itu berasal dari studi yang dilakukan Petrokimia Gresik bersama perusahaan asal Jepang dan Taiwan. Hasilnya, 95 persen karbon dari proses industri bisa ditangkap dan dikurangi.
"Apa yang terjadi? Emisi karbonnya, menurut studi yang dilakukan oleh Petrokimia Gresik dan perusahaan Jepang dan Taiwan, 95 persen karbon itu ada pengurangan. Emisi karbon berkurang 95 persen," katanya.
Selain menekan emisi, proses carbon capture di Petrokimia Gresik menghasilkan produk sampingan berupa soda ash atau baking soda. Hashim menilai produk itu punya nilai ekonomi karena selama ini pasokan dalam negeri masih bergantung pada impor.
"Ada produk sampingan, itu namanya soda ash atau baking soda. Di mana baking soda dan soda ash itu banyak diimpor," tuturnya.
Peluang Penerapan di PLTU Batu Bara
Hashim menilai teknologi penangkap emisi tidak hanya cocok untuk industri petrokimia. Teknologi serupa berpotensi dipakai pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
"Ini bisa kita terapkan ternyata bukan hanya di Petrokimia Gresik, kita bisa pakai untuk PLTU. Semua stasiun listrik, pembangkit listrik yang memakai batu bara bisa hidup terus-menerus karena alat-alat ini bisa dipakai," ujarnya.
Pernyataan itu menyiratkan PLTU batu bara bisa memperpanjang masa operasinya jika dilengkapi alat penangkap emisi. Bagi pelaku usaha di sektor energi, opsi ini membuka jalan menekan jejak karbon tanpa harus menghentikan operasi pembangkit lebih cepat.
Pemerintah Siapkan Insentif bagi Pengguna Alat Penangkap Emisi
Hashim mengakui adopsi teknologi carbon capture membutuhkan biaya besar. Pemerintah sedang menyiapkan skema insentif khusus bagi perusahaan yang memakai alat tersebut.
"Memang alat ini ada biaya, tapi pemerintah lagi menyusun, ini Menteri Perindustrian lagi menyusun program insentif khusus bagi pemakai-pemakai alat-alat ini," katanya.
Insentif itu disebut tengah disusun Kementerian Perindustrian. Belum ada keterangan soal besaran, bentuk, maupun jadwal pemberlakuannya.
Teknologi Datang dari Berbagai Negara
Hashim menambahkan alat penangkap emisi tidak hanya dikembangkan satu perusahaan. Pasokan teknologi datang dari sejumlah wilayah, termasuk Eropa.
"Alat ini bukan hanya dari satu perusahaan. Teknologi itu sudah ada, ada dari Eropa, ada dari yang bikin eksperimen di Petrokimia Gresik itu perusahaan dari Taiwan dan dari Jepang," tandasnya.
Bagi investor, sinyal yang perlu dicermati adalah arah kebijakan insentif dan kelanjutan uji coba di Petrokimia Gresik. Jika skema insentif terbit, permintaan alat penangkap emisi berpotensi naik di sektor petrokimia dan pembangkit listrik berbasis batu bara.