HIKONE, JEPANG — Diplomasi budaya dari tanah Riau menembus Negeri Sakura. Melalui program bertajuk "Syiar Syair di Negeri Sakura", syair Melayu Riau kini diperkenalkan langsung kepada masyarakat Jepang. Kegiatan ini didukung oleh Dana Indonesiaraya Kementerian Kebudayaan RI.
Kamis (15/10/2026), kegiatan resmi dibuka di Hikone, Prefektur Shiga, Jepang. Tak sekadar pentas budaya, kunjungan ini juga melahirkan kerja sama akademik antara IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dengan Shiga Prefecture University lewat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
Senandung Syair Melayu Menggema di Negeri Sakura
Hari pertama kegiatan berlangsung penuh antusias. Peserta tak hanya dari kalangan akademisi dan mahasiswa, tetapi juga warga Indonesia dan Malaysia yang menetap di Jepang, hingga masyarakat lokal.
Rangkaian diawali dengan Seminar Kebudayaan, lalu dilanjutkan lokakarya praktik Syair Dodoi Siak dan Syair Surat Kapal. Dipandu Siska Armiza dan Jefrizal, peserta diajak memahami sekaligus mempraktikkan langsung irama dan lantunan syair tradisional yang selama ini mungkin belum banyak dikenal di luar negeri.
Suasana semakin hangat saat mahasiswa Jepang mencoba melantunkan syair Melayu. Salah satu mahasiswi Shiga Prefecture University, Haruka, mengaku terkesan.
"Kami sangat senang bisa belajar Syair Surat Kapal. Ini seperti mempelajari budaya luar yang sangat indah melalui lantunan syairnya. Guru syairnya juga sangat baik, dan kami senang karena syair Indonesia memiliki keindahan tersendiri," ujarnya.
Diplomasi Budaya Melahirkan Kerja Sama Akademik
Setelah sesi budaya, digelar seminar internasional yang membahas kehidupan sosial dan budaya Melayu Muslim. Forum ini menjadi ruang diskusi akademik lintas negara yang diharapkan memperkuat studi kebudayaan Melayu di tingkat global.
Ketua tim sekaligus penyair, Jefrizal atau yang akrab disapa Jefri Al Malay, menjelaskan bahwa pendekatan budaya langsung menjadi jembatan yang efektif.
"Kegiatan ini sangat penting karena menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kebudayaan Melayu Riau, khususnya seni syair, kepada masyarakat internasional. Perpaduan antara praktik syair dan seminar internasional juga memberikan nilai tambah dalam pengembangan kajian akademik tentang budaya Melayu," ujarnya.
Puncak kegiatan ditandai penandatanganan MoU antara IAIN Datuk Laksemana Bengkalis yang diwakili Juwandi, M.H., dengan Shiga Prefecture University yang diwakili Prof. Etsuko Yoshida, Ph.D. Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pertukaran budaya.
Prof. Etsuko Yoshida menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. "Kami sangat senang atas kerja sama yang terjalin. Ke depannya, kami berharap dapat mewujudkan berbagai bentuk kolaborasi antara kedua perguruan tinggi," katanya.
Diharapkan, syair Melayu Riau tak sekadar menjadi warisan lokal, tetapi semakin dikenal dunia melalui kolaborasi akademik dan budaya yang berkelanjutan.