MEDIALOKAL.CO — Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak bersubsidi tidak naik hingga akhir 2026, dengan melibatkan Kementerian Keuangan dan BP Danantara dalam menyusun strategi fiskal. Anggota Dewan Ekonomi Nasional Septian Hario Seto menyampaikan hal itu setelah memaparkan kajian DEN kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam (20/10/2026). Masyarakat pengguna BBM bersubsidi belum perlu khawatir soal harga, meski rincian strategi dan besaran anggaran belum diumumkan.
Pernyataan itu disampaikan Seto usai memaparkan kajian DEN kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam (20/10/2026). Menurut dia, langkah pemerintah menjaga harga BBM bersubsidi dinilai sudah tepat, terutama untuk melindungi daya beli masyarakat.
Alasan Harga BBM Bersubsidi Dijaga
Seto menegaskan, menjaga harga BBM bersubsidi menjadi prioritas karena dampaknya langsung terasa ke daya beli rumah tangga. Pemerintah tidak ingin gejolak harga energi memperberat beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
"Kami menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa langkah pemerintah untuk menjaga harga BBM bersubsidi ini sudah tepat, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat saat ini," ujar Seto.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Pembahasan
Pembahasan strategi fiskal melibatkan Kementerian Keuangan dan BP Danantara. Keduanya disebut berperan membantu pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi bisa dipertahankan sampai akhir tahun, sekaligus menjaga kondisi fiskal tetap sehat.
"Kami juga mendiskusikan beberapa strategi-strategi fiskal yang bisa dilakukan oleh pemerintah, Kementerian Keuangan dan juga dibantu Danantara untuk memastikan bahwa harga BBM ini tetap bisa dijaga sampai dengan akhir tahun dan fiskalnya juga tetap sustainable," jelas Seto.
Subsidi Energi Diarahkan Lebih Tepat Sasaran
Selain menjaga harga dalam jangka pendek, pemerintah membahas perbaikan kebijakan subsidi energi untuk jangka panjang. Fokusnya adalah memastikan subsidi energi tersalurkan lebih tepat sasaran.
Menurut Seto, perbaikan itu diperlukan agar kebijakan menjaga harga energi tetap mendukung daya beli masyarakat, sekaligus mempertahankan keberlanjutan fiskal. Dengan begitu, subsidi tidak hanya murah di permukaan, tetapi juga sampai ke kelompok yang benar-benar membutuhkan.
Rincian Strategi Belum Diungkap
Seto belum merinci strategi fiskal yang akan dipakai. Bentuk keterlibatan Danantara maupun besaran anggaran yang dibutuhkan untuk menjaga harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun juga belum diumumkan.
Artinya, masyarakat belum mendapat gambaran pasti soal mekanisme penjagaan harga, termasuk apakah akan ada penyesuaian alokasi anggaran atau skema lain. Informasi resmi lanjutan diperkirakan menyusul dari Kementerian Keuangan dan instansi terkait.
Dampak bagi Pengguna BBM Bersubsidi
Bagi masyarakat, sinyal dari pemerintah ini berarti harga BBM bersubsidi diharapkan tidak berubah sampai akhir 2026. Namun, karena rincian kebijakan belum final, pengguna disarankan memantau pengumuman resmi pemerintah dan kanal Kementerian Keuangan.
Masyarakat juga perlu waspada terhadap informasi harga yang beredar tanpa sumber jelas. Selalu cek pengumuman resmi sebelum mengambil keputusan, dan laporkan dugaan penipuan atau pungutan liar terkait distribusi BBM bersubsidi ke kanal pengaduan resmi pemerintah.