Aktivis Riau Minta Bertemu Presiden Prabowo, Siapkan Aksi Bakar Diri sebagai Langkah Terakhir

Ridwan dikenal sebagai aktivis dalam penyelesaian konflik agraria
Penulis: Redaksi
Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:39:11 WIB

Pekanbaru, Medialokal.co - Seorang warga Provinsi Riau, Ridwan, yang dikenal sebagai aktivis dalam penyelesaian konflik agraria, melayangkan surat resmi kepada Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) pada Senin, 24 Agustus 2026. Dalam surat tersebut, Ridwan menyampaikan rencana melakukan aksi bakar diri sebagai bentuk tekanan terakhir sekaligus memohon pertemuan langsung dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Ridwan ingin menyampaikan secara langsung situasi yang dinilainya semakin kritis terkait konflik agraria di Indonesia. Menurut dia, berbagai saluran yang selama ini tersedia, mulai dari organisasi masyarakat sipil, lembaga bantuan hukum, hingga wakil rakyat, belum mampu memberikan penyelesaian yang dirasakan adil oleh masyarakat.

"Saya menilai konflik agraria semakin sulit diselesaikan akibat kuatnya dominasi modal korporasi dan oligarki. Ridwan juga menyoroti dugaan persekongkolan serta ketidakberpihakan oknum di sejumlah institusi, termasuk aparat penegak hukum dan lembaga negara," ungkap Ridwan kepada Wartawan, Selasa (25/08/2026).

Menurut Ridwan, kondisi reforma agraria saat ini berada dalam situasi yang sangat kritis. Ketimpangan penguasaan tanah terus berlangsung, sementara berbagai konflik agraria berlarut-larut tanpa penyelesaian yang tuntas. Di sisi lain, masyarakat yang berupaya mempertahankan tanahnya disebut justru menghadapi kriminalisasi, intimidasi, hingga ancaman proses hukum.

Tekanan tersebut, kata Ridwan, membuat dirinya menyampaikan rencana aksi bakar diri sebagai langkah terakhir untuk mendapatkan perhatian pemerintah.

Ia menegaskan bahwa rencana tersebut, menurut versinya, bukan bentuk keputusasaan maupun keinginan untuk mengakhiri hidup. Ridwan menyebutnya sebagai bentuk desakan agar Presiden Prabowo Subianto turun langsung menangani persoalan konflik agraria dan melihat kondisi masyarakat yang terdampak.

Ridwan juga mengatakan bahwa keputusannya meminta bertemu langsung dengan Presiden justru didasari oleh kepercayaan dan harapan terhadap kepemimpinan Prabowo.

Sebagai contoh, ia menyinggung kinerja Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang berada di bawah komando langsung Presiden. Menurut Ridwan, satuan tugas tersebut telah mampu menertibkan kegiatan usaha ilegal, termasuk di sektor pertambangan dan perkebunan, sehingga dinilai dapat mengurangi potensi kebocoran penerimaan negara.

Meski demikian, Ridwan mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu dikoreksi dalam pelaksanaan penertiban, khususnya yang berkaitan dengan hak masyarakat atas tanah.

Atas dasar itu, ia meminta Presiden memberikan perhatian khusus terhadap konflik agraria dan mengambil langkah tegas untuk memastikan penyelesaian yang adil. Ridwan berharap penyelesaian konflik agraria juga dapat berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi.

Dalam suratnya, Ridwan memberikan tenggat waktu dua minggu sejak surat tersebut diterima oleh Kemensetneg. Dengan surat yang dilayangkan pada Senin, 24 Agustus 2026, tenggat yang ia tetapkan berakhir pada Senin, 7 September 2026.

Ridwan menyatakan, apabila hingga tanggal tersebut tidak ada kepastian mengenai pertemuan dengan Presiden, ia berencana melaksanakan aksi bakar diri di depan Istana Negara.

Ridwan juga meminta agar rencana aksinya tidak disamakan begitu saja dengan aksi yang pernah dilakukan Sondang Hutagalung. Ia mengatakan telah menyampaikan akar persoalan yang menurutnya menjadi penyebab tindakan tersebut, jauh sebelum rencana aksi dilakukan.

Selain itu, Ridwan menyatakan telah melepaskan seluruh identitas organisasi yang sebelumnya melekat pada dirinya. Ia menegaskan bahwa seluruh risiko dan tanggung jawab atas rencana tersebut akan ditanggungnya secara pribadi.**Ril/Tim

Reporter: Redaksi