Transaksi Ritel Offline Tembus Rp 2.215 Triliun, Airlangga: Dua Kali Lipat dari Online

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan data transaksi ritel offline yang mencapai Rp 2.215 triliun dalam Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Jakarta Utara, Rabu (26/8).
Penulis: Yasir
Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:29:32 WIB

MEDIALOKAL.CO — Data tersebut dipaparkan Airlangga dalam acara Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (26/8). Dari total nilai tersebut, pangsa pasar ritel offline tercatat sekitar dua pertiga, sementara kanal online baru sepertiga dari keseluruhan transaksi.

"Memang kalau kita lihat antara offline dan online itu yang offline kira-kira nilainya sekitar US$125 miliar dan yang online US$61,18 miliar. Artinya perdagangan kita ini dua per tiga offline, sepertiga online," ujar Airlangga di hadapan pelaku usaha ritel.

Stok Menipis dan Risiko Belanja ke Luar Negeri

Di balik dominasi tersebut, Airlangga menyoroti ancaman yang membayangi sektor ritel, yakni menipisnya stok barang, terutama untuk produk yang pasokannya bergantung pada impor. Ia mengaku menerima masukan langsung dari pengusaha terkait kondisi ini.

"Tentu kita berharap bahwa aliran barang juga bisa didorong dari dalam negeri. Dan tentu nanti menjadi PR bersama dengan Pak Menteri Perdagangan (Budi Santoso) karena kita tidak ingin stoknya tipis akibatnya masyarakat Indonesia belanjanya di tempat lain di luar negeri," jelas Airlangga.

Ia menambahkan, ketersediaan stok yang memadai menjadi kunci untuk menahan arus belanja masyarakat ke luar negeri. Semakin besar stok yang tersedia, semakin besar pula potensi belanja yang bisa ditangkap di dalam negeri.

Teknologi Jadi Kunci Pengelolaan Stok dan Permintaan

Meski kanal fisik mendominasi, Airlangga mengingatkan penguasaan teknologi tetap menjadi syarat mutlak bagi peritel untuk bertahan. Teknologi berperan penting dalam mengatur stok, memperkirakan permintaan, hingga menentukan pilihan merchandise yang tepat.

"Kalau kita lihat ritel di berbagai negara itu tidak lepas dari penguasaan teknologi juga untuk pengelolaan stok, demand, maupun pilihan daripada merchandisenya," katanya.

Konsumsi Jadi Penopang Utama PDB di Tengah Ketidakpastian

Data yang dipaparkan Airlangga menunjukkan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen pada kuartal II 2026. Angka ini menjadi sinyal positif karena kontribusi konsumsi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 53,32 persen.

"Bapak Ibu yang kami hormati, kita lihat di kuartal kedua konsumsi masih baik di pertumbuhan 5,06 persen dan konsumsi ini masih merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia dan ini merupakan aset Indonesia," ujarnya.

Indikator lain turut mendukung optimisme tersebut. Indeks keyakinan konsumen masih bertahan di atas level 100, sementara Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur berada di atas 50 yang menandakan ekspansi aktivitas industri.

Airlangga menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Capaian ini disebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, sekaligus menjadi modal bagi sektor ritel untuk terus berekspansi pada paruh kedua tahun ini.

Reporter: Yasir