Sisra Yosi, SP (Istimewa)

Loading...

Aku pertama kali masuk ke kabupaten inhil pada tahun 2001. Hijrahnya aku ke kabupaten yang terkenal dengan nama negeri seribu parit, karena aku menikah dengan suami tercinta Yuli Pandi. Beliau bekerja di PT. THIP dulunya bernama MGI.

Maka terdamparlah aku di hutan sawit MGI. Menempuh 2 hari perjalanan dari kota kecilku Sungai Pakning.

Perjalanan menempuh waktu lebih kurang 9 jam waktu itu. Itu baru sampai Tembilahan ibu kota kabupaten, keesokan harinya naik Speed boat menuju Guntung yang merupakan ibu kota Kecamatan Kateman. Harus naik boat pancung menuju Saka Pasir, lalu harus naik boat kecil lagi menuju lokasi estate tempat tinggal kami.

Begitulah perjuangan yang harus Aku lalui untuk sampai ke tempat kerja suamiku. Sesampai di sana aku di kejutkan dengan sambutan yang meriah warga estate Terentang, mereka semuanya bersikap ramah padaku, ini menyebabkan hilang semua penat yang aku rasakan sebelum sampai ke sini.

Ditambah lagi rumah yang akan aku tempati unik yaitu rumah panggung yang besar terbuat dari papan, begitu masuk menimbulkan kenyamanan.

Tetapi, dibalik itu semua yang sangat mencengangkan bagiku adalah air di sini warnanya seperti coca cola. Wah kagetnya aku untuk pertama kalinya. Kok bisa ada air warna ini kataku. Dulu waktu di pakning memang pernah liat, tapi tidak sepekat ini pikirku.

18 tahun sudah berlalu, aku sudah tidak tinggal di tempat kerja suamiku. Aku sudah hijrah di Tembilahan, semua ini karena harus bersama anak-anakku yang harus sekolah disini. Karena tidak kuat melihat air coca cola maka aku harus merogoh kocek yang dalam untuk membuat sumur bor. Harga yang cukup fantastis yaitu 17 juta rupiah, harga segitu di luar mesin dan instalasinya. Jadi, kalau ditotal harganya mencapai 20 juta rupiah.

Karena menginginkan air bersih maka mau tidak mau harus dikeluarkan uang sebanyak itu. Dulunya sebelum aku buat sumur bor sendiri, aku kongsi (bersama-sama) dengan tetangga ada 10 orang masing-masing kami mengeluarkan dana sebesar 2,5 juta rupiah. Awalnya lancar-lancar saja, aman tidak ada masalah, tapi sejak berganti teman kongsi aku sudah tidak nyaman lagi, selalu tidak dapat air. Padahal kesepakatan kami apabila sudah selesai menarik air, stop kran harus dibelokan supaya kawan sebelah bisa narik juga.

Tapi apa yang terjadi setiap dia selesai narik stop kran tidak ditutup dan mengakibatkan aku tak pernah lagi dapat air bor.

Aku yang tidak mau ribut, akhirnya mengalah, aku hanya menarik air sumur gali yang warnanya seperti coca cola itu. Lama kelamaan timbul juga rasa jijik, apalagi melihat kamar mandi sudah hitam semua. Walhasil tak kuat lagi untuk gosok gigi pake air itu.

Akhirnya dengan bantuan teman aku di kenalkan dengan seorang pembuat sumur bor. Pekerjaan di lakukan selama lebih kurang 1 minggu walhasil air bersih pun di peroleh. Sekarang tahap pembuangan untuk membuang gas dan bekas-bekas lumpur dan pasir. Alhamdulillah sudah mulai bening dan insya Allah tak lama lagi aku sudah menikmati air bersih.


Penulis : Sisra Yosi, SP
Guru      : SMPN 3 Gaung Anak Serka (GAS)

Tembilahan, 28 Februari 2020
Pekanbaru






Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]



Tulis Komentar