MEDIALOKAL.CO — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengajukan izin impor KRL bekas dari Jepang untuk menutup kekurangan armada di Jabodetabek, menyusul lonjakan penumpang yang menembus rata-rata 1,1 juta orang per hari. Permintaan itu muncul karena jumlah penumpang pada semester I 2026 tumbuh 11,5 persen, jauh di atas proyeksi 3-4 persen, sementara sebagian besar kereta yang beroperasi sudah berusia 40 tahun.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan permintaan izin impor itu dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026). Ia menyebut lonjakan penumpang sebagai kondisi yang di luar perkiraan.
"Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta," ujar Bobby.
Stasiun Bogor Jadi Gambaran Lonjakan
Kenaikan penumpang tidak hanya terlihat pada angka rata-rata nasional. Di Stasiun Bogor, jumlah penumpang naik-turun yang sebelumnya di bawah 100.000 orang per hari kini mencapai sekitar 160.000 orang.
Bobby menilai angka itu menunjukkan pergeseran pilihan moda transportasi masyarakat. "Artinya, memang untuk transportasi commuter, kereta lebih menjadi pilihan utama pada saat ini," katanya.
Armada Menua, Suku Cadang Makin Langka
Di sisi lain, KAI mencatat sekitar 92 trainset telah berusia 40 tahun dan harus dikonservasi secara bertahap. Sebagian armada yang masih melayani penumpang bahkan berasal dari era 1970-an.
"Pada saat ini kita punya 92 trainset yang umurnya sudah 40 tahun. Ini yang akan pelan-pelan kita konservasi," ujar Bobby.
Titik paling berat diperkirakan terjadi pada 2029, ketika sejumlah trainset memasuki usia 45 tahun. Pada usia itu, kata Bobby, suku cadang sudah tidak tersedia dan material kereta mulai mengalami kelelahan logam.
"Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," katanya.
Kebutuhan 104 Trainset, Tersedia Baru 102
KAI memperkirakan kebutuhan kereta pada 2026 mencapai 104 trainset, dengan asumsi konservatif 1 juta penumpang per hari. Angka itu mencakup 89 trainset untuk melayani 1.065 perjalanan KRL per hari, ditambah cadangan dan kebutuhan perawatan.
Pada awal 2026, jumlah sarana yang dimiliki baru 102 trainset. Selisih itulah yang membuat KAI menilai penggantian armada tidak bisa sepenuhnya ditunda sambil menunggu kapasitas produksi dalam negeri naik.
Mengapa Pilih Kereta Bekas
Impor kereta bekas dipilih karena waktu pengadaannya lebih singkat. Setelah mendapat persetujuan, rangkaian bekas diperkirakan bisa didatangkan dan dioperasikan dalam satu hingga dua bulan, sedangkan kereta baru butuh waktu jauh lebih lama.
"Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi," ujar Bobby.
KAI berencana memakai rangkaian impor itu untuk jangka waktu terbatas, sekitar 10 tahun, sebagai jembatan sambil industri dalam negeri memperbaiki kapasitas produksinya.
"Rencana akan kita pakai 10 tahun dan ini segera kita lakukan karena sudah banyak komplain (dari pengguna jasa)," kata Bobby.
DPR Beri Dukungan
Komisi VI DPR RI menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Impor kereta bukan baru ditempatkan sebagai solusi transisi, sementara industri perkeretaapian dalam negeri tetap didorong meningkatkan kemampuan produksinya.
"Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal, dan melakukan impor rangkaian kereta (trainset) bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan," kata Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade dalam rapat tersebut.
Bagi penumpang KRL Jabodetabek, keputusan ini menentukan seberapa cepat antrean dan kepadatan di jam sibuk bisa diredam. Bagi industri dalam negeri, posisi impor sebagai langkah sementara menjadi ujian apakah kapasitas produksi lokal mampu mengejar kebutuhan armada sebelum gelombang konservasi besar-besaran pada 2029.