Pencarian

Dari Hafalan ke Komunikasi Nilai: Program Tahfidz sebagai Media Komunikasi Pendidikan di Sekolah Negeri

Kamis, 24 September 2026 • 20:10:51 WIB
Dari Hafalan ke Komunikasi Nilai: Program Tahfidz sebagai Media Komunikasi Pendidikan di Sekolah Negeri

PEKANBARU, MEDIALOKAL.CO – Sekolah bukan hanya tempat siswa memperoleh pengetahuan akademik. Sekolah juga merupakan ruang komunikasi, tempat nilai, sikap, kebiasaan, dan karakter dibentuk melalui interaksi yang berlangsung setiap hari. Guru menyampaikan pesan, siswa merespons, lingkungan sekolah memberikan simbol, sementara berbagai kegiatan pendidikan secara tidak langsung mengomunikasikan nilai-nilai yang ingin dibangun.

Dalam konteks tersebut, kehadiran program tahfidz di sekolah negeri menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai kegiatan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga sebagai bagian dari proses komunikasi pendidikan. Sejak tahun 2023, penulis terlibat sebagai guru tahfidz di SMAN 10 Pekanbaru.

Sekolah ini memiliki program tahfidz yang dilaksanakan secara rutin pada hari Senin dan Rabu serta memiliki Rumah Qur'an Al-Mujahadah sebagai ruang pembinaan Al-Qur'an bagi siswa. 

Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa pembelajaran tahfidz sesungguhnya menghadirkan proses komunikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar guru menyimak hafalan siswa.

Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, pembelajaran pada dasarnya merupakan proses komunikasi yang melibatkan penyampaian pesan dari pendidik kepada peserta didik dengan tujuan tertentu. Pesan pendidikan tidak hanya berupa transfer pengetahuan, tetapi juga dapat diarahkan pada perubahan sikap dan perilaku peserta didik. 

Sutirman (2015) menjelaskan bahwa komunikasi dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan dari pendidik kepada peserta didik yang diharapkan dapat dipahami sesuai tujuan pembelajaran dan menghasilkan perubahan tingkah laku. Pada program tahfidz, proses tersebut terlihat dalam komunikasi interpersonal antara guru dan siswa. Ketika seorang siswa menyetorkan hafalannya, terjadi komunikasi dua arah.

Guru tidak hanya mendengarkan benar atau salahnya bacaan, tetapi juga memberikan umpan balik, motivasi, penguatan, dan terkadang nasihat. Akbar (2024) dalam penelitiannya tentang komunikasi interpersonal guru tahfidz menunjukkan bahwa pendekatan interpersonal antara guru dan siswa dapat membuat siswa lebih terbuka dan antusias dalam belajar Al-Qur’an. Penelitian tersebut juga menemukan adanya pola komunikasi primer melalui interaksi langsung dengan bahasa verbal dan nonverbal serta pola komunikasi sekunder melalui media seperti telepon dan WhatsApp.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa interaksi dalam pembelajaran tahfidz tidak berhenti pada proses menyimak dan mengevaluasi hafalan. Komunikasi yang berlangsung secara dialogis juga menjadi bagian dari proses membangun motivasi dan keterbukaan siswa. Dengan interaksi yang dilakukan secara berulang, hubungan antara guru dan siswa dapat berkembang menjadi relasi pembelajaran yang lebih dekat dan suportif.

Dalam praktiknya, penulis juga berupaya memperluas proses komunikasi pembelajaran tahfidz hingga ke lingkungan keluarga. Salah satu bentuknya adalah dengan memberikan tugas kepada siswa pada hari Sabtu berupa setoran hafalan bersama orang tua. Siswa diminta menyetorkan hafalannya kepada orang tua, kemudian merekam proses tersebut sebagai bagian dari dokumentasi dan evaluasi pembelajaran. 

Pemberian tugas ini bukan semata-mata untuk menambah beban belajar siswa, tetapi sebagai upaya agar waktu akhir pekan tetap dapat dimanfaatkan untuk menjaga konsistensi hafalan dan interaksi siswa dengan Al-Qur’an.

Melalui kegiatan tersebut, orang tua juga dilibatkan sebagai bagian dari proses pendampingan pembelajaran. Siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru ketika berada di sekolah, tetapi melanjutkan proses belajar melalui komunikasi interpersonal bersama orang tua di rumah. Rekaman setoran hafalan kemudian menjadi bentuk umpan balik bagi guru untuk mengetahui keterlibatan dan perkembangan siswa di luar lingkungan sekolah.

Praktik sederhana tersebut menunjukkan bahwa komunikasi pendidikan dapat berlangsung secara berkelanjutan, tidak terbatas pada ruang dan waktu sekolah. Pesan yang disampaikan guru di sekolah dapat diteruskan oleh siswa ke lingkungan keluarga, kemudian diperkuat melalui keterlibatan orang tua.  

Dengan demikian, program tahfidz tidak hanya membangun komunikasi antara guru dan siswa, tetapi juga membuka ruang komunikasi antara sekolah, siswa, dan keluarga dalam menjaga keberlanjutan proses pembelajaran Al-Qur’an. Di sinilah komunikasi interpersonal memiliki peranan penting. Keberhasilan siswa dalam menghafal Al-Qur'an tidak hanya bergantung pada kemampuan mengingat, tetapi juga pada bagaimana guru mampu membangun komunikasi yang membuat siswa merasa didampingi dalam prosesnya. 

Program tahfidz juga dapat dilihat sebagai bentuk komunikasi kelompok. Siswa belajar dalam suasana bersama, saling menyimak, mengulang hafalan, dan berinteraksi dengan teman-temannya. Dalam proses tersebut terbentuk norma kelompok, kebiasaan, dan dukungan sosial.

Siswa tidak lagi memandang aktivitas menghafal sebagai kegiatan individual semata, tetapi sebagai bagian dari budaya bersama. Rahmatya, Hakim, dan Rikza (2025) dalam penelitian mengenai pengaruh interaksi teman sebaya terhadap motivasi hafalan santri tahfidzul Qur’an menemukan bahwa interaksi antar teman sebaya dapat mendorong motivasi dalam menghafal Al-Qur’an.

Teman sebaya dapat berperan sebagai pihak yang saling memberikan dorongan dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung proses hafalan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Feka, Rohmad, dan Syarif (2025) yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara keterlibatan siswa dalam program tahfidzul Qur’an dengan interaksi sosial mereka. Penelitian tersebut menemukan bahwa rutinitas tahfidz, seperti murojaah dan penyetoran hafalan kepada guru, dapat menjadi bagian dari proses yang mendukung perkembangan karakter komunikatif, empati, dan interaksi sosial siswa.

Hal menarik lainnya adalah keberadaan Rumah Qur'an Al-Mujahadah SMAN 10 Pekanbaru. Sebuah ruang bukan sekadar tempat secara fisik. Dalam komunikasi simbolik, ruang dapat memiliki makna tertentu bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Rumah Qur'an dapat menjadi simbol bahwa Al-Qur'an memiliki ruang dalam kehidupan pendidikan siswa di sekolah. Dengan demikian, program tahfidz dapat berperan sebagai bentuk komunikasi nilai.

Nilai-nilai Al-Qur'an tidak hanya disampaikan melalui ceramah atau nasihat, tetapi juga melalui rutinitas. Siswa belajar hadir tepat waktu, mengulang hafalan, menerima koreksi, bersabar ketika mengalami kesulitan, dan bertanggung jawab terhadap target yang diberikan. 

Proses tersebut merupakan komunikasi yang berlangsung melalui tindakan dan kebiasaan. Namun demikian, penting untuk melihat program tahfidz secara realistis. Tidak semua siswa memiliki kemampuan, motivasi, dan latar belakang yang sama.

Karena itu, keberhasilan program tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah hafalan yang diperoleh. Proses pendampingan, perubahan kebiasaan belajar, kualitas interaksi guru dan siswa, serta tumbuhnya kecintaan terhadap Al-Qur'an juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. 

Di sinilah komunikasi pendidikan dapat menjadi perspektif yang relevan. Program tahfidz bukan hanya persoalan berapa juz yang dihafal, tetapi juga pesan apa yang dikomunikasikan dan bagaimana pesan tersebut diterima serta diwujudkan dalam kehidupan siswa.

Kehadiran program tahfidz di sekolah negeri juga menunjukkan bahwa pendidikan memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakter lingkungan sekolah. Selama dilaksanakan dalam kerangka pendidikan yang baik dan dikelola secara inklusif, program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang memberikan ruang bagi pembentukan karakter dan nilai. Pada akhirnya, membicarakan program tahfidz di sekolah bukan hanya membicarakan hafalan Al-Qur'an.

Kita sedang membicarakan bagaimana sebuah institusi pendidikan mengkomunikasikan nilai kepada generasi muda. Dari perspektif Ilmu Komunikasi, setiap interaksi adalah pesan. Setiap kebiasaan adalah pesan. Bahkan keberadaan sebuah Rumah Qur'an di lingkungan sekolah juga merupakan pesan. Pesannya sederhana, tetapi penting: pendidikan tidak hanya bertujuan membuat siswa mengetahui sesuatu, melainkan juga membantu mereka memahami nilai, membangun kebiasaan, dan menerjemahkan nilai tersebut dalam kehidupan.

Program tahfidz di SMAN 10 Pekanbaru, dengan kegiatan rutin dan keberadaan Rumah Qur'an Al-Mujahadah, menjadi sebuah pengalaman menarik untuk melihat bagaimana Al-Qur'an tidak hanya dipelajari sebagai hafalan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari proses komunikasi pendidikan. Sebab pada akhirnya, hafalan yang tersimpan dalam ingatan akan menjadi lebih bermakna ketika nilai yang terkandung di dalamnya mampu dikomunikasikan, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Referensi :

1. Sutirman, S. (2015). Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran. Efisiensi: Kajian Ilmu Administrasi, 6(2).
2. Akbar, K. (2024). Komunikasi Interpersonal Guru Tahfidz dalam Memotivasi Belajar Membaca Al-Qur’an. Qiro’ah: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 14(2).
3. Rahmatya, M., Hakim, D., & Rikza, A. (2025). Pengaruh Interaksi Teman Sebaya Terhadap Motivasi Hafalan Santri Tahfidzul Qur’an Asrama 4N Al-Karimah Pondok Pesantren Darul’ Ulum Jombang. Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, 1(3),
4. Feka, L. N., Rohmad, M. A., & Syarif, M. (2025). Lebih dari Sekadar Menghafal: Peran Tahfidzul Qur’an dalam Membentuk Karakter Komunikatif dan Empati Siswa. Taklim: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 23(2).

Penulis : Mela Kusmiati, S.I.Kom, M.I.Kom

Follow medialokal.co

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Redaksi
Profil Penulis Redaksi

Editor: Milla

Lihat Profil

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks