Laba United Tractors Anjlok 48% ke Rp4,3 Triliun, Penjualan Emas Merosot 82%
MEDIALOKAL.CO — Manajemen United Tractors memaparkan kinerja keuangan semester I 2026 dalam Public Expose Live, Senin (7/9). Angka laba tersebut belum memperhitungkan pos non-recurring items senilai Rp3,3 triliun yang membebani laporan keuangan perseroan.
Beban non-recurring itu berasal dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate. Realisasi ini berbalik tajam dibandingkan posisi kas bersih Rp7,7 triliun pada 31 Desember 2025.
Operasional Martabe Terhenti, Penjualan Emas Jatuh Drastis
Segmen Pertambangan Emas menjadi biang utama pelemahan kinerja. PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, mencatat penurunan penjualan emas hingga 82%.
Total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya baru mencapai 32 ribu ons hingga Juli 2026. Capaian ini jauh di bawah 143 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu.
"Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua," ujar Direktur United Tractors Andreas dalam paparan publik tersebut.
Segmen Alat Berat Ikut Melemah, Suku Cadang Masih Tumbuh
Kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah ikut menekan segmen alat berat. Penjualan alat berat Komatsu turun 23% menjadi 2.393 unit hingga Juli 2026.
Penurunan terdalam terjadi pada penjualan big machine untuk sektor pertambangan yang anjlok 49% menjadi 405 unit. Alhasil, pendapatan bersih segmen alat berat terkoreksi 28% menjadi Rp15,0 triliun.
Di tengah pelemahan itu, pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan masih tumbuh tipis 1% menjadi Rp5,5 triliun. Kondisi serupa menimpa segmen batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung, dengan volume penjualan turun 18% menjadi 6,5 juta ton.
Kontraktor Penambangan Jadi Penopang di Tengah Tekanan
Segmen Kontraktor Penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) menjadi penyeimbang kinerja. Pendapatan bersih segmen ini naik 4% menjadi Rp27,2 triliun, ditopang penguatan kurs dolar AS.
Meski tumbuh dari sisi pendapatan, volume pekerjaan pemindahan tanah turun 10% menjadi 573 juta bcm. Produksi batu bara klien juga terkoreksi 3% menjadi 80 juta ton hingga Juli 2026, mengikuti penyesuaian target produksi sesuai RKAB.
Untuk diversifikasi, PAMA dan KPP Mining mulai memperkuat ekspansi ke sektor emas dan nikel. Adapun bisnis nikel melalui PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wmt.
Perseroan juga membukukan kontribusi dari Nickel Industries Limited (NIC) dengan kepemilikan 20,13%, yang melaporkan penjualan nickel metal sebesar 61.622 ton pada Q4 2025 dan Q1 2026.
Utang Bersih Membengkak Usai Akuisisi Tambang Emas
Per 30 Juni 2026, United Tractors mencatat utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%. Posisi ini berbalik dari kas bersih Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025.
Perubahan struktur modal tersebut dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham. Perseroan juga terus mengembangkan bisnis pendukung melalui anak usaha di bidang engineering, manufaktur komponen alat berat, serta layanan logistik maritim dan pembuatan kapal.