BULOG Serap 4,11 Juta Ton Gabah dan Beras, Lampaui Target Pemerintah
MEDIALOKAL.CO — Perum BULOG menyerap 4.115.014 ton gabah dan beras setara beras hingga 8 Oktober 2026, atau 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Capaian pengadaan dalam negeri itu menjadi penopang utama Cadangan Beras Pemerintah di tengah upaya menjaga pasokan dan harga di tingkat petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan angka pengadaan tersebut sebagai bukti hasil panen petani terserap. Realisasi BULOG tahun ini lebih tinggi dibanding pengadaan 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras, sekaligus melampaui capaian 2012 sekitar 3,65 juta ton.
Pengadaan berbeda dari produksi nasional. Angka pengadaan mencerminkan gabah dan beras yang benar-benar diserap perusahaan, sedangkan produksi nasional mencakup seluruh hasil panen, termasuk yang dijual lewat jalur lain, disimpan sendiri, atau dikonsumsi petani.
Stok dan Cadangan Beras Pemerintah
Pemerintah melaporkan stok BULOG sekitar 5,3 juta ton pada awal Juni 2026 dan lebih dari 5 juta ton pada April. Adapun Cadangan Beras Pemerintah pada September 2026 disebut sekitar 4,61 juta ton.
Perbedaan angka antarperiode perlu dibaca dengan memperhatikan tanggal pencatatan, arus pengadaan, penyaluran, dan definisi stok yang dipakai. Cadangan yang memadai memberi pemerintah ruang merespons gangguan produksi, bencana, dan gejolak harga.
"Cadangan pangan adalah kekuatan negara. Stok yang kuat memberi pemerintah ruang untuk merespons gejolak harga, bencana, dan gangguan produksi," ujar Amran.
Petani dan Konsumen Jadi Taruhan
Manfaat pengadaan tidak otomatis sampai ke petani dan konsumen. Hasilnya bergantung pada harga pembelian, biaya distribusi, mutu beras, serta efektivitas penyaluran ke daerah.
Amran menegaskan penyerapan harus terus dikawal. Menurut dia, pekerjaan belum selesai meski target pengadaan sudah terlampaui.
"Penyerapan harus terus dikawal agar manfaatnya dirasakan petani dan masyarakat," katanya.
Di sisi konsumen, pemerintah menjalankan bantuan pangan beras dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pada 2025, kedua program ditargetkan menjangkau 18,3 juta penerima manfaat dengan sasaran penyaluran sekitar 1,3 juta ton beras SPHP. Angka itu merupakan target, bukan realisasi.
Impor Dihentikan, Anggaran Rp164,4 Triliun Disiapkan
Pemerintah menyatakan impor beras umum untuk konsumsi telah dihentikan. Kebijakan itu perlu dibedakan dari impor kebutuhan khusus yang punya jenis, tujuan, volume, waktu, dan dasar kebijakan tersendiri.
Dukungan anggaran disiapkan lewat rancangan APBN 2026 sebesar sekitar Rp164,4 triliun untuk ketahanan pangan nasional. Alokasi itu mencakup subsidi pupuk, penugasan BULOG, serta penguatan cadangan dan lumbung pangan. Angka tersebut masih berupa rencana, bukan realisasi belanja.
"Setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan melalui hasil yang dapat diukur," ujar Amran.
Dari sisi harga, BPS mencatat inflasi bulanan September 2026 sebesar 0,30 persen. Beras memberi andil inflasi 0,03 persen, cabai rawit 0,08 persen, cabai merah 0,06 persen, dan daging ayam ras 0,05 persen.
Bagi BULOG, capaian 4,11 juta ton ini memperkuat posisinya sebagai penyerap hasil panen sekaligus penjaga cadangan pangan. Ujiannya ada di hilir: memastikan stok yang besar tetap bermutu, tersalur tepat waktu, dan tidak menjadi beban anggaran tanpa hasil yang terukur.