Tanggapi Pemecatan Waketum & Sekjen PPP, Tokoh PPP Rusli Effendi: “Saya Tak Ikutan, Jujur Menyedihkan
JAKARTA — Dinamika internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali menjadi perhatian. Menanggapi kabar mengenai pemecatan Wakil Ketua Umum (Waketum) dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PPP, tokoh PPP Rusli Effendi yang juga WAKETUM DPP PPP Priode lalu menyampaikan keprihatinannya.
Rusli mengaku ikut merasakan kesedihan serta malu atas situasi yang terjadi di internal partai berlambang Ka'bah tersebut.
“Saya GA' ikutan, jujur menyedihkan,” ujar Rusli Effendi saat ditanya awak media lewat telpone ".
Pernyataan Rusli muncul di tengah dinamika organisasi PPP yang dalam beberapa waktu terakhir memang diwarnai perbedaan pandangan dan persoalan internal. Pada 2025, Rusli pernah mengingatkan kader PPP agar menjaga marwah partai dan tidak memperpanjang konflik internal.
Menurut Waketum PPP sebelum nya Rusli, dinamika dalam sebuah organisasi politik merupakan sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, setiap persoalan semestinya diselesaikan melalui mekanisme organisasi, musyawarah, dan muafakat serta tentunya dengan aturan yang berlaku.
Sebelumnya, Rusli juga pernah menyampaikan bahwa PPP merupakan organisasi yang dinamis dan mekanisme pergantian kepengurusan telah diatur dalam AD/ART partai.
Ia berharap persoalan yang terjadi saat ini tidak semakin melebar dan dapat diselesaikan dengan mengutamakan kepentingan partai.
“kemaren itu keputusan Rakornas yang diketuai langsung Ketum Mardiono . Saya tidak ikut , dikarenakan memang bukan pengurus lagi. Sebagai orang yang dilahirkan dari rahim PPP dan dibesarkan oleh naluri kekeluargaan partai PPP , Yang paling penting bagaimana PPP ke depan tetap solid, menjaga marwah partai, dan tidak terjebak kembali dalam konflik serta ego tertentu yang berkepanjangan,” demikian pesan yang disampaikan dalam konteks dinamika internal PPP.
Rusli sebelumnya juga pernah mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat menjauhkan partai dari masyarakat. Dalam konteks Muktamar X PPP pada 2025, ia menyerukan agar kader menahan diri dan mengedepankan kesantunan dalam menghadapi perbedaan.
Kejadian ini tidak hanya menyedihkan , tapi sejarah baru dan kalau kita boleh jujur malu kita. ( Ungkap Rusli Effendi)".