Jagung di Tanah Kemuning: Polri dan Petani, Satu Langkah Menuju Swasembada

Foto : Polisi di Desa Batu Ampar Kecamatan Kemuning melaksanakan pengecekan perkembangan tanaman jagung di lahan pertanian masyarakat

Kemuning – Jumat, 08 April 2026, di lahan pertanian Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, deretan jagung berdiri tegak seperti barisan prajurit. Daunnya hijau. Batangnya kokoh. Di antara baris itu, seorang Bhabinkamtibmas berjalan pelan. Ia tidak membawa senjata. Ia membawa hati yang ingin tahu. Ia datang bukan untuk memeriksa kesalahan, tapi untuk merawat kepercayaan.

Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan di wilayahnya, Bhabinkamtibmas Desa Batu Ampar Kecamatan Kemuning melaksanakan pengecekan perkembangan tanaman jagung di lahan pertanian masyarakat. Langkahnya ringan. Sapanya akrab. Karena di Batu Ampar, polisi bukan tamu. Polisi adalah bagian dari kampung.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk pendampingan dan dukungan kepada para petani agar proses penanaman hingga panen dapat berjalan optimal. Bhabinkamtibmas berhenti di setiap bedengan. Menyentuh daun. Mengamati warna. Mendengar suara angin di antara batang jagung. Di sini, setiap helai daun punya cerita. Setiap batang punya harapan.

Selain melakukan pengecekan kondisi tanaman, petugas juga berdialog langsung dengan para petani untuk mengetahui kendala yang dihadapi di lapangan, seperti kondisi cuaca, hama, serta kebutuhan pupuk. “Bagaimana hujannya? Ada ulat? Pupuknya cukup?” tanya Bhabinkamtibmas seperti anak menanya kabar orang tua. Petani menjawab dengan senyum. Mereka merasa didengar.

Kapolsek Kemuning Kompol M. Simanungkalit, SH., MH, menyampaikan bahwa keterlibatan anggota kepolisian dalam program pertanian merupakan wujud sinergitas antara Polri dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya di wilayah Desa Batu Ampar Kecamatan Kemuning. “Kami ingin hadir sampai ke akar. Sampai ke tanah. Sampai ke harapan,” ujarnya.

“Kami ingin memastikan tanaman jagung yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik. Kehadiran Polisi di tengah masyarakat juga sebagai bentuk dukungan moril agar petani semakin semangat dalam mengelola lahannya,” ujarnya. Bagi Kompol M. Simanungkalit, ketahanan pangan bukan sekadar angka di laporan. Ia adalah jagung yang tumbuh. Ia adalah keringat yang tidak sia-sia.

Dari hasil pengecekan, tanaman jagung yang ditanam menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik dan dalam kondisi terawat. Daunnya tidak layu. Batangnya tidak patah. Tanahnya lembab. Petani tersenyum. Polisi pun ikut lega. Karena ketika jagung tumbuh, maka masa depan juga ikut tumbuh.

Di Batu Ampar, jagung adalah lebih dari sekadar tanaman. Ia adalah lauk anak sekolah. Ia adalah uang untuk membeli obat. Ia adalah bukti bahwa tanah ini masih bisa dipercaya. Dan ketika polisi datang, maka tanah itu merasa dijaga.

Bhabinkamtibmas tidak hanya mengecek. Ia juga menguatkan. “Jangan putus semangat. Kalau ada hama, kita cari obat. Kalau hujan telat, kita cari cara. Kalau butuh pupuk, kita bantu carikan jalan. Karena ketahanan pangan itu kerja bersama,” katanya kepada petani.

Di sini, polisi tidak bicara dari atas. Polisi bicara dari pematang. Dari lumpur. Dari panas matahari. Dari keringat yang menetes. Karena bagi Polri, ketahanan pangan adalah bentuk cinta pada negeri. Cinta yang tidak cukup diucapkan. Cinta yang harus ditanam.

Kegiatan pengecekan ini akan terus dilakukan secara berkala guna memantau perkembangan tanaman sekaligus memperkuat kemitraan antara Polri dan masyarakat. Setiap minggu, setiap bulan, polisi akan datang. Bukan untuk menilai. Tapi untuk menemani. Karena kemitraan tidak tumbuh dari laporan. Ia tumbuh dari pertemuan.

Kompol M. Simanungkalit percaya, ketika petani kuat, maka desa kuat. Ketika desa kuat, maka Indonesia berdiri tegak. “Jagung ini adalah bagian dari kedaulatan. Kalau kita bisa makan dari tanah kita sendiri, maka kita tidak perlu takut pada dunia,” katanya.

Di Batu Ampar, kemitraan itu nyata. Petani mengajari polisi tentang musim. Polisi mengajari petani tentang semangat. Bersama, mereka merawat tanah. Bersama, mereka merawat harapan. Bersama, mereka merawat Indonesia.

Hari itu, jagung di Batu Ampar tidak hanya tumbuh. Ia juga mengajari kita satu hal. Bahwa negara tidak selalu datang dengan pidato. Kadang negara datang dengan sapaan di pematang. Dengan tangan yang menyentuh daun. Dengan janji untuk kembali lagi.

Dan ketika matahari mulai turun, Bhabinkamtibmas berpamitan. Ia tidak membawa jagung. Ia membawa keyakinan. Keyakinan bahwa selama polisi dan petani masih berjalan bersama, maka Batu Ampar akan terus menjadi desa yang kenyang. Kenyang dalam pangan. Kenyang dalam cinta. Kenyang dalam rasa kebangsaan.(*)





Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]