MEDIALOKAL.CO — Musim kemarau kerap membawa masalah baru bagi keluarga, terutama saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti lingkungan tempat tinggal. Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc, menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan darurat kesehatan anak yang perlu direspons cepat oleh para orang tua.
Mengapa Paru-Paru Anak Lebih Rentan?
Anak-anak memiliki paru-paru yang masih dalam tahap perkembangan. Paparan polutan dari kabut asap bisa mengganggu proses tumbuh kembang organ vital ini. Menurut dr. Rista, setiap kali anak menghirup udara yang tercemar, terjadi paparan polutan berbahaya yang berlangsung terus-menerus.
"Kita sedang menjaga paru-paru yang akan mereka gunakan sepanjang hidupnya," ujarnya di Pontianak pada Minggu (27/8).
Kenali Gejala yang Tidak Selalu Berupa Batuk
Orang tua sering kali hanya fokus pada batuk sebagai indikator utama gangguan pernapasan. Padahal, dr. Rista mengingatkan ada gejala lain yang lebih halus namun sama pentingnya untuk diperhatikan. Bayi dan balita belum mampu menyampaikan keluhan dengan jelas, sehingga orang tua harus jeli mengamati perubahan perilaku mereka.
Beberapa perubahan yang perlu diwaspadai antara lain:
- Cara bernapas yang berubah, misalnya menjadi lebih cepat atau tampak berat
- Penurunan aktivitas atau anak terlihat lemas dan tidak bersemangat
- Gangguan makan dan minum, seperti nafsu makan menurun drastis
- Perubahan perilaku, seperti bayi yang menjadi lebih rewel dari biasanya
"Anak mungkin tidak selalu mampu mengatakan bahwa udara yang dihirupnya terasa tidak nyaman. Bayi tidak dapat mengeluh, balita mungkin hanya menjadi lebih rewel," jelas dokter spesialis anak tersebut.
Langkah Protektif yang Bisa Dilakukan di Rumah
Ketika kualitas udara memburuk, keputusan orang tua sangat menentukan. Membatasi aktivitas di luar ruangan adalah langkah pertama yang wajib dilakukan. Jika anak hendak beraktivitas fisik, pindahkan kegiatan olahraga ke dalam ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang baik.
Menutup jendela rumah juga menjadi cara efektif untuk mengurangi masuknya partikel polutan ke dalam ruangan. Untuk anak dengan riwayat asma, perlindungan tambahan seperti penggunaan obat inhaler sesuai resep dokter harus dipastikan selalu siap sedia dan diberikan secara teratur.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Jangan menunggu gejala menjadi parah. Jika anak menunjukkan tanda-tanda kesulitan bernapas seperti cuping hidung kembang kempis, napas berbunyi, atau kebiruan pada bibir, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Perubahan kesadaran seperti anak menjadi sangat lemas atau tidak responsif juga merupakan tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Perlindungan anak dari kabut asap tidak bisa hanya menjadi tugas orang tua di rumah. Dr. Rista mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengambil kebijakan yang lebih tegas dalam melindungi kesehatan anak selama periode ini. Penanganan harus dilakukan menyeluruh, mulai dari pengendalian sumber kebakaran hingga perlindungan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.
Membaiknya kualitas udara setelah hujan turun bukan berarti perhatian terhadap kesehatan paru anak boleh berakhir. Tetap pantau kondisi anak dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika ada keluhan yang berlanjut. Kesehatan paru-paru anak adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas hidupnya di masa depan.