Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyatakan kelima pesawat tersebut diberangkatkan Jumat siang (21/8/2026) untuk menambah 30 armada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah beroperasi di tiga provinsi terdampak di Pulau Kalimantan. Selain itu, TNI AU juga menyiagakan sejumlah pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang siap bergerak sewaktu-waktu sesuai kebutuhan BNPB.
Sebaran 52 Armada di Dua Pulau
Berdasarkan laporan Kepala BNPB, Suharyanto, dari total 52 pesawat yang dikerahkan, sebanyak 30 unit dialokasikan untuk wilayah Kalimantan dan 22 unit lainnya untuk Sumatera. Enam provinsi dengan potensi kebakaran tinggi yang menjadi prioritas adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
Armada yang ditempatkan di Kalimantan terdiri atas berbagai jenis pesawat dan helikopter. Masing-masing memiliki peran berbeda, mulai dari patroli, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga pemadaman dari udara melalui water bombing.
Operasi Water Bombing Dua Hari Berturut-turut
Operasi udara dilaporkan berlangsung intensif. Pada Kamis dan Jumat, 20–21 Agustus 2026, armada BNPB bersama TNI melakukan water bombing untuk menjangkau titik-titik api dari udara. Langkah ini diambil untuk memadamkan karhutla sekaligus mencegah meluasnya area terdampak.
Penambahan armada ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat respons terhadap titik kebakaran. Fokus utamanya adalah menekan dampak kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan di wilayah terdampak.
Belum ada laporan resmi mengenai luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas (hotspot) terbaru pasca-pengerahan tambahan armada ini. BNPB masih melakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap efektivitas operasi udara yang berjalan.