PEKANBARU — Anggota Komisi X DPR RI Dr. Hj. Karmila Sari, SKom, MM, mendorong mahasiswa memanfaatkan artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu pembelajaran dan penelitian tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis, integritas akademik, dan tanggung jawab intelektual.
Selain itu, perkembangan AI memberikan kemudahan besar bagi mahasiswa dalam mencari, mengelompokkan, dan menyaring berbagai referensi ilmiah. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan proses berpikir dalam menghasilkan karya akademik.
“Kita sebagai akademisi adalah akademisi yang terlatih untuk berpikir kritis, bukan akademisi yang sangat dipermudah dengan fasilitas,” kata Karmila menjadi keynote speaker dalam Workshop “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Penelitian dan Pembelajaran yang Berkualitas untuk Mahasiswa” di Gedung Rektorat Universitas Islam Riau (UIR), Sabtu (12/9/2026)..
Wakil Ketua Umum PP KPPG ini menegaskan, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia dalam memahami persoalan, menganalisis informasi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan hasil penelitian.
“AI hadir untuk menjadi alat, bukan menggantikan posisi kita,” tegasnya.
Karmila mengatakan mahasiswa tetap harus membaca, memahami, menganalisis, dan menentukan relevansi setiap informasi yang diperoleh melalui AI. Hal itu penting karena karya ilmiah seperti skripsi, tesis, dan disertasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai syarat untuk memperoleh gelar.
Menurutnya, penelitian mahasiswa harus mampu memberikan manfaat dan menjawab persoalan yang ada di masyarakat maupun kebutuhan pembangunan.
“Jangan melihat hanya kebutuhan sendiri, yang penting saya lulus. Karya ilmiah yang diwujudkan dalam skripsi, tesis dan disertasi adalah sesuatu yang bermanfaat dan bisa diteruskan ataupun diaplikasikan,” ujarnya.
Karmila juga mendorong mahasiswa meningkatkan budaya menulis dan produktivitas penelitian. Menurutnya, AI justru dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses belajar, membantu eksplorasi ide, serta mendukung mahasiswa menghasilkan tulisan dan jurnal penelitian yang lebih berkualitas.
Peluang pengembangan penelitian, kata dia, juga terbuka melalui berbagai skema pendanaan riset, termasuk kesempatan yang tersedia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pandangan Karmila tersebut sejalan dengan materi yang disampaikan narasumber lain dalam workshop. Seperti Prof Dr Arbi Haza Nasution, menjelaskan, AI bekerja berdasarkan data yang digunakan untuk membangun model, melakukan pembelajaran, menghasilkan informasi, hingga membantu proses pengambilan keputusan.
“AI itu tidak bisa bekerja tanpa data. Dari data itu AI membuat model, belajar, kemudian menghasilkan informasi dan membantu mengambil keputusan,” ujarnya.
Menurut Arbi, mahasiswa dapat menggunakan AI sebagai mitra belajar, misalnya untuk meminta penjelasan suatu konsep, contoh penerapan, soal latihan, hingga umpan balik terhadap jawaban yang dibuat mahasiswa.
Namun, mahasiswa tidak boleh menyerahkan seluruh tugas kepada AI dan langsung menggunakan hasilnya.
“AI bukan pengganti kecerdasan mahasiswa. AI adalah mitra untuk memahami lebih dalam dan meneliti lebih teliti,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan menyusun prompt yang tepat agar mahasiswa dapat memperoleh keluaran AI sesuai kebutuhan, dengan memberikan konteks, tugas, format, dan batasan yang jelas.
Sementara itu, Assoc Prof Dr Susandri, SKom, MKom, mengingatkan bahwa perkembangan AI akan mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja.
Menurutnya, sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia mulai mengalami perubahan akibat teknologi AI, mulai dari pekerjaan administratif, desain grafis, analisis data hingga penyusunan laporan.
Namun, kondisi tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman. Mahasiswa perlu membangun kemampuan yang tidak mudah digantikan AI, seperti memahami persoalan, menentukan fokus analisis, mengevaluasi informasi, serta menjelaskan dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan.
“Yang penting bukan seberapa cepat menghasilkan tulisan atau laporan, tetapi seberapa cermat mengedit, memahami, mengembangkan, dan mempresentasikannya,” ujarnya.
Rektor UIR Assoc Prof Dr Admiral berpadangan penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi harus tetap berada dalam koridor integritas dan etika akademik.
Menurutnya, AI merupakan tools yang membantu manusia. Mahasiswa tetap menjadi subjek sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas karya maupun penelitian yang dihasilkan.
“Kita adalah subjeknya, bukan AI. AI adalah tools. Karena itu, kitalah yang menjadi penentu dalam menggunakan tools tersebut,” kata Admiral.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menerima informasi dari AI secara mentah. Sebab, teknologi tersebut tetap memiliki keterbatasan dan dapat menghasilkan informasi yang keliru, termasuk sumber atau kutipan yang tidak sesuai fakta.
Penggunaan AI, kata Admiral, masih dapat dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki tata bahasa, menemukan ide, mencari referensi, maupun mendukung analisis data, tetapi seluruh hasilnya harus diverifikasi.
“Yang harus kita kejar bukan lagi apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana ketika dia diuji, dia mampu mempertanggungjawabkan dan memahami apa yang sudah ditulisnya,” ujarnya.
Workshop tersebut dihadiri perwakilan Kemendiktisaintek Danu Alsaheri Caniago, Eri Widiarto dan Aristagunawan, Wakil Rektor 1 UIR Prof Dr H Fathurrahman, dan sebagai moderator workshop Dr Septian Wahyudi.(*)