MEDIALOKAL.CO — Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) mencatat lebih dari 108.000 pelaku UMKM telah dilatih sejak 2007, dengan 2.300 di antaranya kini didampingi 30 Collaborator Hub di 17 provinsi. Pelaku usaha mikro binaan yang ingin naik kelas dan menembus pasar ekspor perlu memahami skema pendampingan ini. Informasi lengkap soal program dan cara bergabung dapat diakses melalui kanal resmi Sampoerna untuk Indonesia.
PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) memperkuat ekosistem UMKM nasional melalui program pelatihan dan pendampingan yang menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah. Program di bawah Payung Keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia" itu menyambungkan pelatihan kapasitas dengan akses pasar, termasuk peluang ekspor.
Director of Stakeholder Relations and Sustainability Sampoerna, Romulus Sutanto, menilai keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan yang diperoleh, tetapi juga manfaat yang bisa dibagikan ke pelaku usaha lain.
"Semakin banyak menabur, semakin banyak kita menuai," ujar Romulus dalam acara "Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas, Membuka Pasar Global".
Skala Pelatihan dan Pendampingan
Bootcamp yang digelar Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) pada 29-30 September 2026 melibatkan lebih dari 180 pelaku UMKM binaan SUI/SETC dari seluruh Indonesia, ditambah 50 UMKM Jakpreneur. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang membangun ekosistem kewirausahaan.
Sejak 2007, SETC telah melatih lebih dari 108.000 pengusaha UMKM. Jaringan Sampoerna Retail Community (SRC) yang membina lebih dari 250.000 toko kelontong mencatatkan total omzet Rp251 triliun per tahun, setara 9,46% dari PDB ritel nasional 2025.
Collaborator Hub: Pendampingan Sampai ke Daerah
SETC mengembangkan Collaborator Hub sebagai jejaring penggerak pemberdayaan UMKM di tingkat lokal. Saat ini, 30 Collaborator Hub tersebar di 17 provinsi dan mendampingi lebih dari 2.300 UMKM secara berkelanjutan.
Jejaring itu menjalankan pendampingan berbasis praktik, membangun kolaborasi antarpelaku usaha, serta membantu akses pasar. Perannya diarahkan tidak hanya meningkatkan kapasitas satu usaha, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas di daerah.
Romulus menyebut model ini penting karena pelaku UMKM yang sudah berkembang dapat membagikan pengalaman kepada pengusaha lain. Efek berantainya berpotensi menjangkau keluarga hingga komunitas di sekitar usaha.
"Bayangkan, ada berapa jumlah kepala keluarga yang Bapak dan Ibu bantu semua di sini. Itu yang membuat saya merinding," kata dia kepada para Collaborator Hub yang hadir.
Kolaborasi di Tengah Persaingan
Selama 18 tahun membina ekosistem SRC, Romulus menemukan sejumlah pemilik toko kelontong anggota SRC bersedia mendampingi toko lain meski menjual produk serupa dan berpotensi menjadi pesaing.
"Ketika saya tanya, Bapak, Ibu, kenapa mau bina tetangga sebelah, warung yang juga saingan kamu, terus nanti kamu dapat apa?" katanya.
Jawaban para pemilik warung itu, menurut Romulus, mengingatkan pada prinsip bahwa semakin banyak kebaikan ditabur, semakin banyak berkah dituai. Praktik tersebut menunjukkan kolaborasi tidak selalu harus berhenti ketika pelaku usaha berhadapan dengan kompetisi.
Sampoerna juga memperkenalkan Falsafah Tiga Tangan sebagai landasan menjalankan bisnis dan program pemberdayaan: menghasilkan produk berkualitas bagi konsumen dewasa, memberikan nilai kepada pemangku kepentingan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Akses Pasar Ekspor dan Cerita dari Daerah
Program SETC memfasilitasi penetrasi ekspor UMKM, antara lain ke Tiongkok melalui The 21st China International Small and Medium Enterprises Fair 2026, bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. Pengusaha binaan SETC juga berpartisipasi di Jakarta International Investment, Trade, Tourism and SMEs Expo (JITEX).
Collaborator Hub asal Balikpapan, Nurul Ahdaniyah, mengembangkan minuman herbal Bungas Wedang Dayak melalui PT Bungas Food Nusantara dan bekerja sama dengan 10 kelompok tani penanam bawang dayak.
"Melalui SETC ini saya bisa sharing dengan teman-teman bagaimana usaha bisa berkembang. Dan memang benar, ketika kita menanam kebaikan, kita akan menuai," kata Nurul.
Selama mengikuti SETC, Nurul mempelajari cara ekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Malaysia, Nigeria, dan Australia. Ia berharap produk berbasis bawang dayak memperoleh pasar yang semakin luas.
Pelaku UMKM yang ingin mengetahui informasi program pelatihan, pendampingan, atau peluang ekspor dapat mengakses kanal resmi Sampoerna untuk Indonesia. Waspadai pihak yang mengatasnamakan program ini dan meminta biaya pendaftaran tanpa dasar resmi.