PGN Gagas Rambah Yogyakarta, Gas Bumi Kini Mengalir ke Bakpia hingga Hotel

Gas bumi dari PGN Gagas kini mengalir untuk memenuhi kebutuhan energi pelanggan komersial di Yogyakarta, termasuk industri bakpia dan hotel.
Penulis: Ragil
Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:34:01 WIB

Yogyakarta bukan daerah yang dekat dengan sumber gas bumi. Jaringan pipa utama PGN pun tidak menjangkau seluruh wilayah. Di sinilah peran CNG—gas yang dikompresi dalam tabung bertekanan tinggi—menjadi penting. Alih-alih menunggu pembangunan pipa baru yang memakan waktu, PGN Gagas mengangkut gas langsung dari sumbernya menggunakan truk.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan untuk menggantikan energi lain. "Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan," ujarnya di Yogyakarta, Rabu (19/8).

Bakpia hingga Hotel Jadi Pelanggan Terbesar

Dari 20 pelanggan yang tercatat, sektor komersial mendominasi. Bakpia Tugu Jogja menjadi pelanggan dengan konsumsi terbesar, menyerap sekitar 50.000 meter kubik per bulan. Disusul Payakumbuh Jogja dengan 2.000 m³ dan Platinum Hotel sekitar 1.500 m³.

Di Sukoharjo, PGN Gagas melayani 12 titik Stasiun Pengisian dan Pemindahan Gas (SPPG) dengan total kebutuhan 12.000 m³. Aston Hotel Solo dan Bening Big Tree masing-masing membutuhkan 1.500 m³ dan 3.000 m³. Sementara di Magelang, dua SPPG dan PGN Balkondes tercatat sebagai pelanggan dengan volume total 4.000 m³.

Komposisi ini menunjukkan bahwa bisnis kuliner dan perhotelan menjadi motor utama adopsi CNG. Mereka butuh pasokan energi yang stabil untuk operasional dapur dan fasilitas, tanpa harus bergantung pada listrik atau LPG yang harganya fluktuatif.

Jaringan 141 Kilometer di Sleman, 4.555 Pelanggan Terlayani

Di Kabupaten Sleman, infrastruktur klasterisasi CNG sudah terbangun cukup masif. Data PGN Gagas mencatat jaringan ini memiliki 1 unit Pressure Regulating Station (PRS), pipa DTM berdiameter 180 mm dan 90 mm sepanjang 15,9 kilometer, serta 5 unit Regulating Station (RS). Pipa DTR berdiameter 63 mm mencapai 125,5 kilometer—total panjang jaringan 141,4 kilometer.

Jaringan tersebut melayani 4.545 pelanggan rumah tangga, 6 pelanggan kecil, dan 4 pelanggan komersial atau industri. Total 4.555 sambungan. Dominasi rumah tangga menunjukkan basis pasar yang kuat, tapi dari kacamata bisnis, ruang ekspansi justru terbuka lebar di segmen komersial.

Rumah sakit, hotel, restoran, dan aktivitas usaha di sekitar jaringan adalah pasar potensial yang belum tergarap maksimal. Santiaji melihat peluang ini sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional. "Semakin beragam pilihan energi yang tersedia, semakin kuat ketahanan energi kita sebagai bangsa. CNG hadir sebagai salah satu opsi yang melengkapi energi eksisting dalam kerangka bauran energi nasional," katanya.

Pasokan Terintegrasi dengan Infrastruktur PGN

Model bisnis CNG ini tidak berdiri sendiri. Pasokan gas untuk CNG terintegrasi dengan jaringan infrastruktur PGN, sehingga mendukung optimalisasi pemanfaatan gas bumi domestik. Santiaji menekankan bahwa pengembangan ke depan akan tetap mempertimbangkan aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan pasar.

Bagi pelaku usaha di Yogyakarta, kehadiran CNG memberi alternatif energi yang lebih murah dibandingkan bahan bakar minyak. Bagi PGN Gagas, ini adalah langkah strategis memperluas pangsa pasar di luar Pulau Jawa bagian barat yang sudah lebih dulu teraliri pipa gas.

Dengan 74.000 m³ per bulan yang mengalir, klasterisasi CNG di Jawa Tengah bagian selatan membuktikan bahwa keterbatasan infrastruktur bukan penghalang untuk mendistribusikan energi. Yang dibutuhkan hanyalah moda transportasi yang tepat dan kemauan untuk menjangkau pasar yang selama ini terlewat.

Reporter: Ragil