PMI Manufaktur RI Turun ke 49,8 pada Agustus 2026, OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil

PMI Manufaktur Indonesia tercatat 49,8 pada Agustus 2026, menandakan kontraksi di sektor industri.
Penulis: Saiful
Rabu, 09 September 2026 | 06:41:01 WIB

MEDIALOKAL.CO — Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan angka PMI 49,8 tersebut dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Agustus 2026, Senin (7/9). Angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi, sementara level 50 berarti aktivitas industri stagnan.

"Inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen year-on-year, dan aktivitas manufaktur berada pada zona kontraksi di level PMI 49,8," ujar Friderica dalam paparan virtual.

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Masih di Level 5,29 Persen

Di tengah perlambatan manufaktur, fundamental ekonomi makro Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Friderica menyampaikan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 tercatat kuat di level 5,29 persen year-on-year (yoy).

Kinerja tersebut ditopang oleh tiga motor utama: investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi rumah tangga. Konsumsi domestik yang solid menjadi penyangga utama di saat sektor industri pengolahan tengah melemah.

Dua Tekanan Eksternal yang Dibayangi OJK

OJK mewaspadai dua risiko eksternal yang berpotensi mengganggu ketahanan ekonomi nasional. Pertama, konflik berkepanjangan di Iran yang membuat Selat Hormuz masih tertutup. Kondisi ini mengganggu jalur distribusi energi global.

"Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi," ungkap Friderica.

Kedua, fenomena alam memperparah tekanan tersebut. El Nino yang berkepanjangan memicu kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan, yang pada akhirnya menekan produksi pangan dan mendorong inflasi.

Kontraksi Manufaktur dan Implikasinya bagi Kredit

Pelemahan PMI manufaktur menjadi sinyal yang perlu dicermati pelaku usaha dan perbankan. Kontraksi aktivitas industri biasanya berimplikasi pada melambatnya permintaan kredit korporasi, terutama untuk modal kerja dan ekspansi kapasitas.

Namun, Friderica memastikan stabilitas sektor jasa keuangan secara keseluruhan tetap terjaga di tengah dinamika global. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa OJK melihat tekanan pada sektor riil belum berdampak sistemik pada industri keuangan.

Bagi investor, data PMI yang kontraksi kerap menjadi indikasi pelemahan margin emiten sektor industri dan konsumer. Saham-saham berbasis manufaktur berpotensi menghadapi tekanan jika tren ini berlanjut.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Saiful