Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Buka Rekening Massal untuk Warga, Ini Targetnya

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada BRI dan BSI untuk menyiapkan pembukaan rekening massal bagi warga di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (7/9).
Penulis: Fajar
Rabu, 09 September 2026 | 07:01:31 WIB

MEDIALOKAL.CO — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar BRI dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menyiapkan rekening bagi masyarakat. Instruksi ini disampaikan dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (7/9).

"Tadi Bapak Presiden meminta agar penduduk Indonesia itu mempunyai rekening koran. Jadi tentu diminta untuk BRI dan juga Bank Syariah Indonesia itu mempersiapkan rekening untuk masyarakat," kata Airlangga.

Data Dukcapil dan BI Jadi Tulang Punggung Sistem

Pembukaan rekening secara masif ini tidak akan berjalan sendiri. Pemerintah akan mengintegrasikan data kependudukan dari Ditjen Dukcapil Kemendagri dengan sistem Bank Indonesia.

Airlangga menjelaskan penyesuaian data diperlukan untuk mendukung sistem pembayaran dan gateway system. Infrastruktur ini juga akan memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai kanal transaksi utama.

Target Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional

Program ini digagas untuk mempercepat pencapaian target literasi dan inklusi keuangan yang lebih tinggi. Berdasarkan survei OJK dan BPS, tingkat inklusi keuangan Indonesia sudah menyentuh 93,62 persen.

Adapun tingkat literasi keuangan nasional tercatat sebesar 69,57 persen. Capaian ini dinilai sudah melampaui standar Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang berada di angka 63 persen.

"Nah, ini yang disiapkan agar literasi dan juga inklusi keuangan kita bisa mencapai seoptimal mungkin, lebih tinggi dari yang sudah kita capai," ujar Airlangga.

Apa Artinya bagi Industri Perbankan?

Instruksi presiden ini membuka peluang besar bagi BRI dan BSI untuk memperluas basis nasabah secara signifikan. Dengan integrasi data kependudukan, proses pembukaan rekening berpotensi menjadi lebih murah dan cepat dibandingkan prosedur konvensional.

Bagi perbankan, perluasan akses ini berarti peningkatan dana murah (CASA) dalam jangka panjang. Namun, tantangan literasi tetap menjadi pekerjaan rumah, mengingat kepemilikan rekening tanpa pemahaman produk berisiko menciptakan rekening pasif.

Langkah ini sejalan dengan upaya OJK dan BI dalam mendorong digitalisasi sistem keuangan nasional. Ke depan, kolaborasi data antara Dukcapil, BI, dan perbankan akan menjadi kunci kelancaran program jemput bola pembukaan rekening tersebut.

Reporter: Fajar