Dari Tepi Sungai ke Mimbar Akademik: Kisah Septa Diana Nabella

Dari Sungai Piring ke puncak akademik: Diana buktikan mimpi tak bertanya asal.
Penulis: Redaksi
Kamis, 10 September 2026 | 23:40:44 WIB

BATAM, Medialokal.co - Tidak semua perjalanan dimulai dengan lampu terang. Ada yang lahir dari jalan tanah, dari bisik ombak di pesisir, dan dari doa yang dipanjatkan seorang diri di malam yang panjang.

Perjalanan itu milik *Assoc. Prof. Dr. Septa Diana Nabella, S.E., M.M.* Perempuan kelahiran Desa Sungai Piring, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, 17 September 1987, ini tumbuh dengan nama yang lebih akrab: Diana.

Di balik gelar panjang yang kini disandangnya, ada seorang anak perempuan yang belajar menelan luka lebih cepat daripada belajar membaca.

Usia 12 tahun. Usia yang seharusnya dipenuhi tawa bersama ibu. Tapi bagi Diana, usia itu datang membawa perpisahan. Sang ibu pergi lebih dulu, meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa digantikan siapa pun.

Belum selesai ia belajar berdiri, ujian lain datang. Di tengah kuliah S1, ayahnya menyusul pergi.

Dalam satu tarikan napas, dunia Diana kehilangan dua tempat pulang. Tidak ada lagi pundak untuk bersandar. Tidak ada lagi suara yang menenangkan ketika langkah terasa berat. Yang ada hanya dirinya, mimpinya, dan janji dalam hati bahwa air mata tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.

Berangkat dengan Kosong, Pulang Membawa Gelar

Dari Sungai Piring ia berangkat tanpa kemewahan. Bekalnya sederhana: keberanian, doa, dan keyakinan bahwa anak desa pun berhak bermimpi besar.

Sementara orang lain melangkah dengan dukungan lengkap, Diana menempa dirinya di tengah keterbatasan. Ia bekerja, ia kuliah, ia bertahan. Lelah datang berulang. Sepi datang bergantian. Tapi ia memilih terus berjalan.

2010. Diana menyelesaikan Sarjana Manajemen di STIE Ibnu Sina Batam.  
2012. Dua tahun kemudian, ia menggenggam gelar Magister Manajemen dari Universitas Borobudur.

Rasanya belum cukup. Di sela mengajar, meneliti, dan memimpin, ia kembali duduk di bangku kuliah. Kali ini untuk tujuan terakhir.

2026. Setelah belasan tahun berjuang dalam diam, perempuan dari pesisir Indragiri Hilir itu akhirnya menyandang gelar Doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Persada Indonesia Y.A.I.

Gelar itu bukan sekadar rangkaian huruf di belakang nama. Di dalamnya ada malam-malam tanpa tidur, ada rindu kepada ayah dan ibu yang tak sempat melihat, ada semua kesunyian yang akhirnya menemukan jawabannya.

Cinta yang Menjadi Rumah

Di tengah perjalanan yang panjang, Tuhan mengirimkan teman seperjuangan. Yandra Rivaldo, S.E., M.M.

Dari rekan merintis usaha, menjadi suami yang setia. Yandra hadir bukan hanya sebagai pasangan, tapi sebagai peneduh. Ia yang mengerti lelah Diana, ia yang menopang ketika tanggung jawab sebagai istri, dosen, pemimpin, dan mahasiswi doktor datang bersamaan.

Kini, dari desa yang dulu hanya dikenal peta, Diana tumbuh menjadi Lektor Kepala di Universitas Ibnu Sina, bidang Manajemen Keuangan.

Langkah kariernya dimulai dari bawah. 2007–2012 ia staf di Yayasan Pendidikan Ibnu Sina Batam. 2018–2019 menjadi Sekretaris SPMI STIE Ibnu Sina. Sejak 2019, ia dipercaya memimpin sebagai Ketua Prodi S1 Manajemen Universitas Ibnu Sina.

Tangan yang sama juga membangun usaha. Ia pernah memimpin PT Area Wahana Mas 2013–2017. Sejak 2020, bersama Yandra, ia menahkodai CV Andara Wahana Karya.

Menulis untuk Dunia, Mengabdi untuk Negeri

Diana tidak berhenti di ruang kelas. Tulisannya menembus jurnal internasional: PLOS ONE, F1000Research, Journal of the Knowledge Economy, Cogent Business & Management.

Risetnya menyentuh hal-hal nyata: kinerja perbankan, pasar modal, risiko kredit, investasi hijau, energi terbarukan, efisiensi dana desa, hingga keuangan keluarga.

Namanya tercatat di Scopus, Web of Science, ORCID, dan SINTA. Karyanya dibaca mahasiswa dan peneliti lintas negara.

Kepercayaan juga datang dari organisasi. Ia kini Koordinator Bidang Keuangan ISEI Cabang Batam 2025–2028, Wakil Bendahara II FMI Kepri 2025–2028, dan pengurus DPW FKDI Kepri 2023–2028.

Pesan dari Ujung Pesisir

Di balik semua jabatan dan publikasi itu, tetap ada Diana kecil dari Sungai Piring. Anak yang kehilangan terlalu cepat. Mahasiswi yang berjuang terlalu sunyi. Perempuan yang memilih tidak menyerah.

Kisahnya berbisik kepada anak-anak desa di seluruh Indonesia: tempat lahir bukan pagar. Kehilangan bukan vonis. Keterbatasan bukan akhir.

Dari aliran Sungai Piring, ia berjalan. Dengan air mata yang disimpan, dengan doa yang tidak pernah putus, dengan keyakinan bahwa perjuangan tidak akan mengkhianati.

Hari ini, gelar doktor itu bukan hanya milik Diana. Ia milik semua orang yang pernah merasa kecil, merasa sendiri, tapi tetap memilih untuk melangkah.

Karena pada akhirnya, mimpi tidak bertanya dari mana asalmu. Mimpi hanya bertanya: seberapa kuat kamu mau memperjuangkannya. (*) 

Reporter: Redaksi