?TEMBILAHAN, Medialokal.co - Wacana pelibatan kantin sekolah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan serius para Mitra Dapur SPPG di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
?
?Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), H. Abdullah Mandu, menilai SPPG masih paling tepat dijadikan sistem utama MBG. Ia mengakui kantin sekolah memiliki keunggulan karena lokasinya dekat dengan siswa dan waktu distribusi bisa lebih singkat. Namun ia menegaskan ada sejumlah hal krusial yang harus dipastikan terlebih dahulu sebelum kantin sekolah mengambil alih fungsi SPPG.
?
?“Tentu harus dikaji matang-matang. Kantin sekolah memang memiliki kelebihan. Makanan lebih dekat dengan siswa dan waktu distribusi bisa lebih singkat. Namun persoalan utama bukan hanya jarak distribusi, melainkan standar gizi, porsi, keamanan pangan dan pengawasan anggaran,” ujarnya.
?
?“SPPG bukan hanya tempat memasak. Di dalamnya ada sistem yang mengatur pengadaan bahan, pengolahan, menu, porsi, kebersihan, keamanan pangan sampai distribusi. Kalau sistem ini sudah berjalan, lebih baik diperkuat dan diperbaiki kekurangannya daripada langsung dialihkan seluruhnya ke kantin sekolah,” sambungnya.
?
?Ia juga menyampaikan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi jika pelaksanaan MBG dipaksakan ke banyak kantin sekolah, antara lain:
?
?- Standar makanan tidak seragam karena fasilitas dan kemampuan tiap kantin berbeda
?- Porsi dan kandungan gizi berpotensi tidak samadi tiap sekolah
?- Keamanan pangan jadi tantangan karena tidak semua kantin punya fasilitas dan tenaga pengolah yang memadai
?- Pengawasan anggaran lebih kompleks jika pengelolaan tersebar di banyak sekolah
?- Berpotensi muncul mark-up harga, pengurangan porsi atau penurunan kualitasbahan jika pengawasan lemah
?- Potensi konflik kepentingan dalam penunjukan pengelola kantin
?
?Menurut Abdullah Mandu, hal tersebut bukan berarti kantin sekolah tidak layak dilibatkan. Namun kantin harus memenuhi standar yang sama dan memiliki mekanisme pengawasan yang jelas.
?
?“Kantin sekolah tetap bisa dilibatkan, tetapi lebih tepat sebagai pelengkap atau alternatif pada kondisi tertentu, bukan langsung menggantikan SPPG secara keseluruhan,” ujarnya.
?
?*SPPG Dinilai Lebih Mudah Dikontrol*
?Senada dengan itu, Ario menilai keunggulan utama SPPG adalah sistemnya lebih mudah distandarkan dan dikontrol karena sejak awal memang dirancang khusus untuk pemenuhan gizi.
?
?Sementara kantin sekolah unggul dalam hal kedekatan dengan siswa dan efisiensi distribusi, tetapi kesiapan fasilitas setiap sekolah belum tentu sama.
?
?Karena itu, solusi yang disebut paling tepat adalah mempertahankan SPPG sebagai tulang punggung MBG, dan memberi ruang bagi kantin sekolah sebagai fasilitas pendukung, khususnya bagi sekolah yang benar-benar memenuhi persyaratan.
?
?“Yang terpenting anak-anak dapat makanan yang aman, bergizi, porsinya pas, dan kualitasnya terjamin. Pengelolaan anggarannya juga wajib transparan dan bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.(*)
APPMBGI Kabupaten Inhil Soroti Risiko Jika MBG Dialihkan ke Kantin Sekolah
Rabu, 09 September 2026 • 17:52:52 WIB
•
2 menit baca
APPMBGI Inhil: Kantin sekolah berisiko turunkan standar gizi MBG jika tanpa pengawasan ketat.
Bagikan
Berita Lainnya
IndeksPilihan
IndeksBerita Terkini
Indeks