Gerakan Cinta Rupiah 1998: Mbak Tutut Tukar US$50.000, Total Valas Cuma US$5 Juta

Siti Hardijanti Rukmana menukarkan US$50.000 pribadinya ke rupiah sebagai stimulan Gerakan Cinta Rupiah pada Januari 1998.
Penulis: Saiful
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 07:01:01 WIB

MEDIALOKAL.CO — Siti Hardijanti Rukmana menukarkan US$50.000 dari kantong pribadinya ke rupiah pada Januari 1998, memicu gelombang pelepasan dolar oleh pejabat hingga konglomerat. Gerakan Cinta Rupiah yang dipelopori putri sulung Soeharto itu berhasil menghimpun sekitar US$5 juta. Nilai tersebut dinilai ekonom tak cukup membendung ambruknya rupiah yang saat itu jatuh ke Rp16.000 per dolar AS.

Krisis moneter 1997-1998 menghantam nilai tukar rupiah dari kisaran stabil Rp2.000 menjadi Rp10.000 per dolar AS, sebelum sempat menyentuh rekor terendah Rp16.000. Di tengah kepanikan pasar, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut menginisiasi Gerakan Cinta Rupiah (Getar) pada Januari 1998.

Misi gerakan itu lugas: mengimbau masyarakat melepas simpanan dolar AS untuk membantu Bank Indonesia memperkuat rupiah dan mengembalikan kepercayaan pasar. Harian Bali Post edisi 16 Januari 1998 mencatat gerakan tersebut "benar-benar menggetarkan".

Teladan US$50.000 dan 2 Kilogram Emas Pribadi

Mbak Tutut tidak hanya mengimbau. Ia menukarkan US$50.000 miliknya sendiri ke rupiah sebagai stimulan, langkah yang dinilainya sebagai simbol patriotisme di tengah krisis. Sebagai dukungan tambahan, ia menyerahkan 2 kilogram emas murni pribadinya kepada negara.

Catatan sejarawan Jan Luiten van Zanden dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) menyebut kejatuhan rupiah bermula dari efek domino depresiasi baht Thailand pada pertengahan 1997. Badai itu cepat merembet ke mata uang negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

SBY hingga Aburizal Bakrie Ikut Lepas Dolar

Aksi Mbak Tutut memicu pelepasan valas oleh pejabat dan politisi. Arsip Bali Post (13 Januari 1998) mencatat rombongan anggota MPR mendatangi Gedung Bank Indonesia untuk mengonversi dolar mereka.

Salah satu nama dalam rombongan itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono, saat itu anggota MPR dari Fraksi ABRI yang kelak menjadi Presiden ke-6 RI. "Di antara rombongan itu tampak Ketua Panitia Ad Hoc MPR, Hartono, dan Wakil Ketua Susilo Bambang Yudhoyono... Susilo Bambang Yudhoyono menukar US$1.300," tulis Bali Post.

Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono tercatat melepas kepemilikan dolar mereka. Secara akumulatif, gelombang pertama aksi itu mengumpulkan US$650 ribu untuk BI.

Kalangan konglomerat menyusul. Berita Yudha (13 Januari 1998) mencatat Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing menukarkan US$100 ribu ke rupiah, menjadikannya kontributor perorangan terbesar saat itu.

Taipan senior Sukamdani Sahid Gitosardjono berada di urutan berikutnya. "Ranking kedua diduduki pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono yang melepas US$50.100 dan merelakan 1 kg emas miliknya kepada pemerintah," tulis Berita Yudha.

US$5 Juta Vs Utang Puluhan Miliar Dolar

Total valas yang berhasil dihimpun dari gerakan Getar ditaksir hanya sekitar US$5 juta. Angka itu dinilai terlalu kecil dibanding kebutuhan devisa dan utang luar negeri Indonesia yang saat itu membengkak hingga puluhan miliar dolar AS.

Ekonom dan pengamat internasional menilai gerakan moral tersebut sekadar aksi simbolis yang tak berkekuatan melawan fundamental pasar keuangan global. "Ini tak akan menyelesaikan masalah," cetus pengusaha dan politisi Fahmi Idris, dikutip Bali Post edisi 1 Februari 1998.

Peringatan itu terbukti. Dolar AS tak terbendung dan rupiah terus meluncur ke titik terendah. Efek dominonya memicu kebangkrutan massal sektor korporasi, lonjakan PHK, dan melambungnya harga sembako.

Krisis ekonomi akut bermutasi menjadi krisis sosial-politik. Gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan Mei 1998 meletus di berbagai kota. Pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan mundur, menuntaskan 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

Reporter: Saiful