Peer Educator: Bukan Sekedar Nama


Loading...

MEDIALOKAL.CO -- Masa Transisi merupakan masa krusial yang menentukan perubahan kondisi dari perubahan fase peralihan pada usia anak menuju dewasa. Usia yang rentan serta banyak-nya misinformasi terkait pergaulan, perencanaan masa depan yang kurang matang, keadaan lingkungan serta kurangnya literasi tentang kesehatan reproduksi membuat tak sedikit remaja salah kaprah dan kehilangan arah.

Dikutip dari data Dinas Kependudukan, Pencatatan sipil, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Riau tahun 2018 mencatat sebanyak 21.600 remaja atau sekitar 1,18 persen penduduk Provinsi Riau melakukan pernikahan dini. 

Tak hanya pernikahan dini, Unit Kedokteran Forensik RS Bhayangkara Pekanbaru melakukan visum kekerasan seksual terhadap 282 orang pada tahun 2019,  yang mana jumlah ini meningkat sebanyak 92 orang dari tahun 2018 yang  hanya 190 orang (Biddokkes Polda Riau, 2019).

Hal ini menimbulkan keprihatinan tentang isu kesehatan reproduksi yang masih dianggap tabu dan menjadi pekerjaan rumah semua lini di masyarakat. Peran pendidik sebaya menjadi salah satu langkah solutif sebagai upaya pendekatan informasi edukasi yang ramah remaja khususnya pada saat komunikasi kampanye kesehatan dengan asas dari remaja, oleh remaja dan untuk remaja.

Loading...

Peer educator (pendidik sebaya) adalah individu remaja yang dilatih untuk memberikan informasi, pendidikan dan dukungan kepada teman sebaya mereka. Mereka berperan sebagai agen perubahan positif dalam komunitas remaja dengan membagikan pengetahuan tentang kesehatan, kesejahteraan, dan isu-isu penting lainnya yang mempengaruhi remaja. Lantas bagaimanakah membangun dan membina komunikasi efektif pendidik sebaya?

Multisensory Multilevel Health Education Model

Pada tahun 2019, Williams & Swierad mengembangkan Multisensory Multilevel Health Education Model (MMHEM) untuk mengidentifikasi masalah kampanye komunikasi kesehatan terkait perubahan perilaku yang diharapkan. MMHEM merupakan model integratif dengan 3 bagian, yakni Art, Culture dan Science yang terintegrasi satu sama lain secara dinamis.

Art

Mengadopsi taktik komunikasi pemasaran seperti, musik, story telling, multimedia, seni peran, seni tari, animasi dan kreativitas lainnya untuk menyampaikan pesan komunikasi kesehatan yang kreatif dan sesuai dengan karakteristik khalayak sasarannya. Materi tentang kesehatan tak sedikit membuat remaja merasakan malu, rishi atau tidak nyaman, meskipun urgensinya sangat tinggi di masa transisi. 

Oleh karena itu, pada saat melakukan kegiatan edukasi, pendidik sebaya bisa menyelipkan jargon, yel-yel atau pun audio visual dengan berisikan konten informatif untuk menarik dan membangun suasana dengan teman sebayanya. Model ini mementingkan pada integrasi strategi visual, auditori dan kinestetik ke dalam pesan kampanye kesehatan, karena persepsi dan ingatan manusia bersifat multisensori. Eksposur isi konten yang kreatif bersifat multisensori memiliki peluang yang lebih besar untuk menarik perhatian dan tersimpan dalam struktur memori seseorang.

Culture

Dalam sebuah komunikasi penting untuk memahami komunikan dengan baik, sebagai peer educator penting untuk memahami nilai atau budaya yang dimiliki khalayak sasaran yang dituju pada seluruh spektrum implementasi komunikasi kesehatan. Penetrasi kampanye komunikasi kesehatan harus relevan dan selaras dengan norma sosial, kepercayaan, karakteristik dan nilai yang hidup di suatu komunitas atau masyarakat.

Ketika menyambangi remaja-remaja di sekolah tentu tidak akan menggunakan metode atau taktik yang sama saat mengunjungi remaja di komunitas ataupun remaja-remaja di lembaga pembinaan, diperlukan strategi yang baik dari pendidik sebaya untuk menyesuaikan budaya dari audiensnya. 

Sejalan dengan pesatnya perkembangan dunia digital, pentingnya pemahaman mengenai budaya digital (digital culture) khususnya di kalangan remaja yang menjadi aspek penting dalam intervensi kampanye komunikasi kesehatan. Pesan yang disampaikan bisa lebih variatif ketika diselaraskan dengan dunia digital seperti poster digital, diskusi daring serta konten singkat di sosial media seperti  Tik-Tok, Youtube, pun Instagram.

Science

Science fokus pada tiga aspek yaitu strategi kognitif (cognitive strategy), metode berbasis bukti (evidence based methods) dan evaluasi hasil berbasis bukti (evidence based outcome evaluation). Setiap perencanaan kampanye komunikasi kesehatan harus berbasis kajian ilmiah sebelum didiseminasikan secara luas. Untuk menghindari penyebaran informasi yang tidak benar, hal wajib selanjutnya yang harus dilakukan oleh seorang pendidik sebaya ada meriset materi yang akan disosialisasikan, tentunya harus bersumber dari lembaga dan instansi terpercaya agar tidak terjadi misinformasi dan miskomunikasi di kemudian hari.

Sebagai peer educator, pendidik sebaya dilatih dalam berbagai topik, seperti kesehatan seksual, perilaku hidup bersih dan sehat, pencegahan narkoba dan alkohol, kekerasan dalam pacaran, kesehatan mental, dan lain-lain. Mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memberikan informasi yang akurat dan relevan kepada teman-teman sebayanya.

Integrasi komponen Art, Culture dan Science secara simultan diharapkan mampu mengatasi masalah mispersepsi khalayak sasaran terhadap nilai yang diusung dalam pesan kampanye komunikasi kesehatan pendidik sebaya, baik pada nilai inti yang terkandung dalam pesan kampanye sosialisasi kesehatan reproduksi dan perencanaan kehidupan berkeluarga maupun terhadap kampanye tentang remaja secara keseluruhan.

Last, Wrap it Up!

Pentingnya sosialisasi kesehatan reproduksi bagi manusia di masa transisi tidak dapat diabaikan. Masa transisi mengacu pada periode dalam kehidupan seseorang ketika mereka mengalami perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan, atau juga dikenal dengan masa remaja atau dewasa awal. 

Selama masa transisi ini, individu mulai memahami perubahan yang terjadi pada tubuh mereka dan mempersiapkan diri untuk mengambil peran dan tanggung jawab baru dalam kehidupan mereka, termasuk aspek-aspek yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. 

Fungsi teman sebaya dalam mendukung kesehatan reproduksi memainkan peran penting dalam memberikan informasi yang akurat, menghilangkan stigma, meniadakan misinformasi, dan memberikan dukungan emosional kepada teman-teman sebayanya, tentunya dengan dukungan dari berbagai lini, baik pemangku kebijakan, masyarakat serta keluarga. Tak kalah penting, untuk segala informasi dan edukasi baik yang telah didapatkan, pun sampai titik terakhir di artikel ini, ada baiknya #JanganBerhentidiKita.(*)

Penulis : Sela Sulastri - Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Riaua

 






Loading...

[Ikuti Medialokal.co Melalui Sosial Media]