Pencarian

Overparenting Bisa Hambat Kemandirian Anak, Ini Kata Ayah 3 Anak

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 06:01:01 WIB
Overparenting Bisa Hambat Kemandirian Anak, Ini Kata Ayah 3 Anak
Wahyu Wiwoho menyampaikan pandangannya mengenai pola asuh overparenting yang dinilai dapat menghambat kemandirian anak.

MEDIALOKAL.CO — Wahyu Wiwoho, pria 44 tahun yang juga dikenal sebagai pembawa acara dan entrepreneur, mengaku sangat berhati-hati dengan pola asuh overparenting. Kekhawatirannya muncul dari pengalaman sehari-hari, baik di sekolah anaknya maupun lingkungan sekitarnya.

Ia mencontohkan, ada orang tua murid yang meminta guru ikut "naik kelas" saat anaknya naik kelas. Menurutnya, ini langkah yang keliru. Anak justru perlu belajar beradaptasi dengan kondisi dan orang baru.

"Rasanya gak perlu campur tangan orang tua sampai ke ruang kelas. Justru anak perlu belajar adaptasi dan agility," ujarnya dalam wawancara dengan Mommies Daily.

Contoh Nyata Overparenting di Usia Kuliah

Kekhawatiran Wahyu bukan tanpa alasan. Ia melihat sendiri bagaimana orang tua terlalu berlebihan saat anaknya masuk perguruan tinggi. Ada grup WhatsApp khusus orang tua mahasiswa baru yang membahas hal-hal sepele.

Mulai dari urusan minuman anak, apakah perlu memakai tabir surya untuk acara kampus, sampai ada orang tua yang rela masuk ke ruangan kampus hanya untuk menunggui anaknya. Padahal, anak-anak ini sudah dewasa dan seharusnya bisa mengurus diri sendiri.

Bahkan saat ada demonstrasi mahasiswa, banyak orang tua yang melarang anaknya ikut. Berbeda dengan Wahyu, ia justru mendorong anaknya untuk mengikuti demo skala kecil agar belajar peka terhadap situasi sekitar.

Mengapa Overparenting Berbahaya?

Perilaku terlalu melindungi ini ternyata bisa berdampak buruk bagi mental anak. Wahyu merujuk pada buku berjudul How to Raise an Adult karya Julie Lythcott-Haims, mantan Dean of Freshmen di Stanford University.

Buku itu ditulis berdasarkan pengalamannya melihat banyak mahasiswa yang sulit mandiri dan selalu bergantung pada orang tua. Temuan ini menjadi pengingat penting bagi Wahyu dan istrinya, Astrid Listuhayu.

"Pengawasan itu perlu, tapi gak perlu juga berlebihan, yang malah bisa membahayakan dan menghambat kemampuan anak," tegasnya.

Mengatasi Rasa Khawatir sebagai Ayah

Sebagai ayah dari Chaitra (17), Shenoa (12), dan Anaqi (7), Wahyu punya kekhawatiran tersendiri. Ia takut ketinggalan informasi terbaru soal cara membesarkan anak yang relevan dengan zaman sekarang.

Untuk mengatasinya, ia sering bertanya pada istrinya dan guru-guru di sekolah anak-anaknya. Dengan begitu, ia bisa memahami dinamika anak di sekolah dan tidak salah mengambil tindakan.

Support system terbesarnya adalah istri dan orang tuanya. Ia mengaku selalu belajar dari pola asuh orang tuanya, lalu memodifikasinya agar sesuai dengan kebutuhan anak-anaknya di era digital ini.

Menjadi Ayah dan Teman Bagi Anak

Wahyu ingin anak-anaknya bisa resilien dan tidak bermental lemah. Ia berharap bisa hadir sebagai sosok ayah sekaligus teman untuk anak-anaknya, terutama untuk kedua putrinya yang sudah beranjak remaja.

Meski berbeda gender, ia ingin anak-anaknya tetap nyaman bercerita. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan rutin mengantar dan menjemput anak sekolah. Momen di perjalanan itu menjadi waktu berharga untuk mengobrol dari hati ke hati.

Pola asuh yang ia terapkan adalah warisan dari orang tuanya yang tegas, namun sudah dimodifikasi. "Anak zaman sekarang sering disebut bermental lemah. Gue berharap anak-anak gue bisa lebih resilien," pungkasnya.

Sumber: mommiesdaily.com

Follow medialokal.co

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks