INHIL, Medialokal.co - Sembilan hari. Sembilan malam. Cukup untuk membuat waktu terasa panjang di tengah asap yang tak kunjung habis.
Kapolres Indragiri Hilir AKBP Donny Eko Listianto, S.H., S.I.K., M.H., memilih jalan yang tidak semua orang sanggup. Ia tidak memimpin dari balik meja. Ia turun. Menyeberangi sungai, menerobos semak, menginjak gambut yang masih mengepul panas.
Ketika senja turun, saat orang lain pulang ke rumah, Donny justru menggelar tikar di tengah medan karhutla. Karena baginya ada janji yang lebih besar dari lelah: _pantang pulang sebelum bara benar-benar mati_.
Perjuangan itu dimulai 23 Agustus 2026. Di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung. Bersama Dandim 0314/Inhil Letkol Arm. Wahib Mustofa Fathurrahman, http://M.Han., Donny memimpin 120 personel gabungan. Di Parit 12, 23 titik api menyala di hamparan gambut seluas 10 hektare. Air jauh. Sinyal hilang. Tapi semangat tidak.
Belum sempat menarik napas, langkah kembali digeser ke Kayu Raja, Keritang. Selasa 25 Agustus, Parit 17 dan Parit 18 menjadi saksi. Sekat bakar dibuat dengan tangan, pendinginan dilakukan di atas tanah yang bisa mengkhianati kapan saja.
Ujian terberat datang di Sungai Rukam, Enok. Untuk sampai ke sana, tim harus menaklukkan sungai dulu, lalu berjalan kaki. Gambut di bawah kaki masih menyimpan bara. Api di atas bisa padam, tapi di dalam tanah ia hidup.
Malam itu Donny memutuskan bertahan. Tidak ada kamar. Tidak ada kasur. Yang ada hanya suara angin, sisa asap, dan personel yang berjaga bergantian. Di sanalah mereka melepas lelah, sebelum matahari kembali memaksa mereka berdiri.
"Kami bermalam di lokasi untuk memastikan pemadaman dan pendinginan berjalan maksimal. Di lahan gambut, api permukaan bisa saja padam, tetapi bara di dalam tanah masih menyala," ujar Donny pelan.
Dari Sungai Rukam, perjalanan berlanjut ke Lahang Hulu, Gaung. Minggu 30 Agustus malam, adegan yang sama terulang. Menyisir titik demi titik, menyiram lahan yang masih berbisik asap, mengawasi agar api tidak kembali bangkit.
"Api yang terlihat sudah padam bukan berarti kita langsung meninggalkan lokasi. Kita harus memastikan melalui pendinginan dan penyisiran bahwa bara benar-benar mati," katanya.
Hari kesembilan, Senin 31 Agustus, medan kembali memanggil. Di Parit 14 Desa Kayu Raja, Keritang, sejak pukul 09.00 WIB tim kembali bekerja. Luas lahan yang ditangani sekitar 80 hektare. 40 hektare sudah padam. 40 hektare lagi masih dilawan.
80 orang dikerahkan. Ada 27 personel Polri, 16 TNI, 16 BPBD, 5 MPA, dan 16 warga. Mereka berhadapan dengan gambut tebal dan angin kencang. Komunikasi putus karena sinyal. Bahan bakar menipis. Tapi penyiraman tidak berhenti sampai pukul 17.30 WIB. Operasi akan lanjut lagi Selasa 1 September.
Di sisi lain ada kabar baik. Verifikasi di Simpang Gaung Senin ini nihil titik api. Di wilayah hukum Polsek Tempuling, Dashboard Lancang Kuning Nusantara juga menunjukkan nol hotspot.
Sembilan hari itu bukan cerita satu orang. Donny berkali-kali menegaskan, ini kerja bersama. TNI, Polri, BPBD, Damkar, Manggala Agni, MPA, pemerintah, perusahaan, relawan, dan masyarakat. Semua menggendong tujuan yang sama.
"Yang paling penting adalah kebersamaan. Di lapangan kita satu tim, satu tujuan, bagaimana api segera padam, masyarakat terlindungi dan lingkungan kita dapat diselamatkan," tegasnya.
Kini asap masih menggantung di beberapa sudut Inhil. Selama masih ada bara di bawah gambut, selama itu pula pendinginan akan terus dilakukan.
Karena bagi Kapolres Inhil dan tim gabungan, api yang tidak terlihat bukan berarti sudah selesai. Mereka baru akan benar-benar pulang, ketika bara terakhir sudah dipastikan padam.
---
Mau aku buatin juga versi caption IG/TikTok yang lebih pendek dan puitis dari berita ini?