MEDIALOKAL.CO — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi masih dalam tekanan koreksi jangka pendek dengan peluang menguji area 6.208-6.258, setelah ditutup melemah 1,69 persen ke level 6.277 pada perdagangan Selasa (22/9). Dua analis sekuritas menilai tekanan jual masih membayangi indeks, meski peluang pemulihan tetap terbuka jika IHSG mampu kembali menguat di atas level resistance terdekat.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan posisi IHSG saat ini berada pada bagian wave a dari wave (x), sehingga berpeluang menguji area 6.208-6.258. Area penguatan terdekat diproyeksikan berada di 6.333-6.364.
Senada, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai indeks saham masih dibayangi risiko koreksi setelah mencapai SMA-60 dan support Fibonacci 6.290 yang menjadi klaster support.
Tekanan Jual Masih Bayangi IHSG
Herditya memproyeksikan IHSG bergerak di rentang support 6.267 dan 6.108, dengan resistance di 6.440 dan 6.535. Ia pun merekomendasikan sejumlah saham, yakni BBRI, PGAS, TPIA, dan AMRT.
"Kami memperkirakan posisi IHSG saat ini berada pada bagian wave a dari wave (x), sehingga berpeluang menguji area 6.208-6.258. Sementara itu, area penguatan terdekat berada di 6.333-6.364," ujar Herditya dalam riset hariannya.
Dari sisi Binaartha Sekuritas, Ivan memperkirakan IHSG bergerak di level support 6.159, 6.015, dan 5.850, serta resistance 6.347, 6.423, 6.552, dan 6.712. Ia merekomendasikan saham INCO, INDF, INKP, KLBF, dan MBMA.
Peluang Pemulihan Terbuka jika Resistance Ditembus
Meski dibayangi koreksi, Ivan menilai peluang pemulihan tetap terbuka jika indeks mampu kembali menguat. Menembus level resistance menjadi kunci untuk membalik tekanan jual yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
"Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di 6.159. Namun, apabila mampu menguat di atas 6.423, tekanan jual pada Selasa berpotensi menjadi false break," ujar Ivan.
IHSG Ditutup Melemah 1,69 Persen
Pada penutupan Selasa (22/9), IHSG berada di level 6.277, melemah 107,68 poin atau minus 1,69 persen dari perdagangan sebelumnya. Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp14,42 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 33,70 miliar saham.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 139 saham menguat, 533 saham terkoreksi, dan 118 saham stagnan. Mayoritas saham yang terkoreksi mencerminkan tekanan jual yang masih mendominasi pasar.
Apa Artinya bagi Investor
Rekomendasi saham dari kedua sekuritas mencerminkan strategi yang berbeda. MNC Sekuritas menyoroti saham perbankan dan konsumer seperti BBRI dan AMRT, sementara Binaartha Sekuritas menjagokan saham berbasis komoditas dan manufaktur seperti INCO, INDF, INKP, KLBF, dan MBMA.
Investor perlu mencermati level support dan resistance yang disebutkan analis sebagai acuan dalam mengambil keputusan. Pemantauan terhadap volume transaksi dan pergerakan indeks di awal sesi menjadi penting untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.