Harga Emas Dunia Jatuh ke US$3.994/Troy Ons, Koreksi Mingguan Terdalam Sejak Juni

Harga emas dunia ditutup di US$3.994 per troy ons pada Jumat (23/10/2026), level terendah sejak 16 Juli.
Penulis: Saiful
Senin, 26 Oktober 2026 | 07:01:31 WIB

MEDIALOKAL.CO — Harga emas dunia ditutup di US$3.994 per troy ons pada Jumat (23/10/2026), turun 0,77% dari hari sebelumnya dan menjadi level terendah sejak 16 Juli atau lebih dari tiga bulan terakhir. Sepanjang pekan lalu, logam mulia ini membukukan koreksi 4,14% secara point-to-point, koreksi mingguan terdalam sejak awal Juni.

Penurunan harga emas dunia pada perdagangan pekan lalu dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pergerakan harga minyak dan arah suku bunga acuan. Ryan McKay, Commodity Strategist di TD Securities, menyebut arus modal sedang negatif dengan intensitas aksi jual yang tinggi.

"Harga emas terseret turun akibat kekhawatiran seputar harga minyak dan arah suku bunga acuan. Arus modal sedang negatif, dengan aksi jual yang tinggi," ujar McKay, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Harga Minyak Brent Melonjak 6,24% Sepanjang Pekan

Tekanan terhadap emas datang bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia. Konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda mendorong harga minyak jenis Brent melesat 6,24% secara point-to-point sepanjang pekan lalu.

Lonjakan harga minyak menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi di pasar global. Kondisi ini pada gilirannya memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, terutama Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan awal.

Suku bunga tinggi menjadi faktor penekan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika yield obligasi dan suku bunga acuan bertahan tinggi, daya tarik emas sebagai aset safe haven relatif melemah dibandingkan instrumen berbunga.

Level US$4.000 Jadi Titik Krusial yang Wajib Dicermati

Penurunan ke bawah US$4.000 per troy ons menempatkan emas pada zona yang secara psikologis penting bagi pelaku pasar. Level tersebut sebelumnya menjadi area konsolidasi yang cukup lama ditahan sebelum akhirnya jebol pada perdagangan Jumat (23/10/2026).

Sejak awal Juni, koreksi mingguan sebesar 4,14% ini menjadi yang paling dalam. Bagi investor yang masuk di sekitar puncak harga, tekanan jual bertambah seiring melemahnya momentum kenaikan yang sudah berlangsung sejak pertengahan tahun.

Namun, pelemahan emas juga membuka peluang bagi investor jangka panjang yang sebelumnya menahan diri karena harga dinilai terlalu tinggi. Level di bawah US$4.000 kerap dipandang sebagai titik akumulasi bagi sebagian kalangan, terutama jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah berlanjut dan memicu permintaan aset lindung nilai.

Sentimen Suku Bunga dan Minyak Jadi Penentu Arah Pekan Ini

Untuk perdagangan pekan ini, arah emas akan sangat bergantung pada dua faktor utama: perkembangan harga minyak dan sinyal dari bank sentral soal suku bunga acuan. Jika Brent terus naik, tekanan inflasi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi yang kembali menekan emas.

Sebaliknya, jika ketegangan Timur Tengah meningkat dan memicu aksi cari aman (risk-off) di pasar global, emas berpotensi kembali menguat meski suku bunga bertahan tinggi. Kombinasi dua sentimen berlawanan ini membuat volatilitas emas pekan ini berpeluang tetap tinggi.

Bagi pelaku pasar di Indonesia, pergerakan emas global ini turut memengaruhi harga emas Antam dan emas perhiasan dalam negeri yang biasanya bergerak searah dengan harga dunia, ditambah faktor kurs rupiah terhadap dolar AS. Pelemahan emas dunia bisa menjadi momen bagi konsumen yang ingin membeli emas batangan di level harga yang lebih rendah, meski tetap perlu mencermati tren kurs.

Keputusan bank sentral utama soal suku bunga dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi katalis berikutnya. Pasar saat ini menanti sinyal apakah tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak cukup kuat untuk menunda pelonggaran kebijakan moneter yang sebelumnya diperkirakan terjadi.

Reporter: Saiful