MEDIALOKAL.CO — Reli harga emas pekan ini menunjukkan logam mulia masih menjadi primadona investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga naik 0,2% menjadi US$4.664,40 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei pada awal pekan setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang, yang memicu kekhawatiran pelemahan dolar.
Permintaan Institusi dan Bank Sentral Masih Kuat
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai prospek emas masih positif dalam jangka pendek. Menurutnya, arus dana yang masuk ke produk ETF dan pembelian agresif oleh bank sentral menjadi fondasi utama kenaikan harga.
"Saya bersikap bullish semata-mata karena permintaan saat ini; kita melihat banyak permintaan yang datang dari sisi ETF, serta permintaan dari bank sentral yang menjadikannya aset alternatif selain dolar," ujar Haberkorn.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran strategi alokasi aset global. Bank sentral negara berkembang, termasuk di Asia, secara konsisten menambah cadangan emas untuk diversifikasi di tengah gejolak geopolitik dan fluktuasi nilai tukar.
Data Inflasi AS dan Suku Bunga Jadi Penentu Arah
Perhatian pasar tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang dirilis Rabu. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) tercatat naik 3,7% secara tahunan hingga Juli, sedikit di atas estimasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6%. Angka ini tidak berubah dibandingkan Juni.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga AS pada September turun menjadi 34%, sementara peluang kenaikan pada Desember berada di level 74%. Suku bunga tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga investor akan mencermati nada bicara Warsh mengenai strategi membawa inflasi kembali ke target.
Aksi Ambil Untung Sempat Tekan Harga
Sebelum menguat, harga emas sempat terkoreksi signifikan pada perdagangan Rabu. Harga emas spot turun 1,4% ke US$4.592,97 per ons, sementara emas berjangka AS melemah 0,9% ke US$4.653,30. Penurunan ini terjadi seiring penguatan dolar AS sebesar 0,3% yang membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menilai koreksi tersebut hanya aksi ambil untung setelah emas mencatat level tertinggi sejak 14 Mei pada perdagangan Selasa. "Data PCE sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, jadi saat ini kami berkonsolidasi dalam kisaran perdagangan kemarin," katanya.
Dengan kombinasi permintaan ETF, akumulasi bank sentral, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter, pasar emas masih memiliki sejumlah katalis untuk bergerak lebih tinggi. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan inflasi dan pernyataan Warsh di Jackson Hole sebagai penentu arah harga berikutnya.
Investasi mengandung risiko.