MEDIALOKAL.CO — Indeks Nasdaq 100 terkoreksi 1,4% pada perdagangan terbaru, memimpin pelemahan Wall Street setelah sejumlah raksasa teknologi mengecewakan pasar. S&P 500 turun 0,31% ke 7.720,22 dan Dow Jones melemah 0,25% ke 52.342,56. Kekecewaan atas kinerja Alphabet hingga proyeksi Intel memicu keraguan investor terhadap prospek investasi kecerdasan buatan.
Tekanan jual memusat pada saham perusahaan teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak bursa Amerika Serikat. S&P 500 terpangkas 23,76 poin, sementara Dow Jones kehilangan 132,54 poin dari posisi sebelumnya. Nasdaq 100 menjadi indeks paling terpukul dengan koreksi 1,4%.
Bloomberg melaporkan, pemicu utama pelemahan adalah kinerja dan prospek sejumlah perusahaan besar yang berada di bawah ekspektasi pasar. Saham Alphabet Inc. anjlok setelah penjualan perusahaan dinilai mengecewakan, membangkitkan kembali keraguan terhadap masa depan saham-saham yang diuntungkan gelombang AI.
Alphabet hingga Intel Jadi Beban Utama Indeks
Selain Alphabet, saham Amazon.com Inc. merosot pada perdagangan setelah bursa ditutup. Perusahaan meningkatkan belanja modal untuk memenuhi permintaan layanan AI, langkah yang dibaca pasar sebagai sinyal beban biaya jangka pendek. Proyeksi pendapatan Intel Corp. juga berada di bawah estimasi analis.
Di sisi lain, Microsoft Corp. mencatat permintaan sangat tinggi untuk penerbitan obligasi senilai US$25 miliar. Fakta itu menunjukkan pelemahan sektor teknologi tidak merata.
Lebih dari 400 saham dalam indeks S&P 500 justru menguat pada sesi yang sama. Namun secara agregat, kelompok saham yang diuntungkan perkembangan AI tetap turun 2,7%.
"Pergerakan pasar mencerminkan pola yang terlihat sepanjang sebagian besar Oktober," kata Chris Larkin dari ETrade, bagian dari Morgan Stanley.
Menurut Larkin, kekhawatiran terhadap investasi AI menekan sektor teknologi dan jasa komunikasi, tetapi relatif tidak berdampak pada sejumlah sektor lain.
Investor Berburu Treasuries, Minyak Masih Fluktuatif
Penurunan saham teknologi mendorong investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang dianggap lebih aman. Obligasi berjangka pendek mencatat kinerja lebih baik dibandingkan tenor lainnya.
Harga minyak bergerak fluktuatif ketika pelaku pasar mencermati sinyal yang saling bertentangan mengenai arah strategi militer AS di Iran.
Pergerakan itu berlangsung sehari setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Data ekonomi terbaru menunjukkan ekonomi AS tumbuh pada kuartal III dengan laju tercepat dalam setahun.
Tekanan inflasi masih menjadi perhatian. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi acuan utama The Fed, naik 0,5% pada September. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar dalam enam bulan terakhir.
Inflasi PCE dan Ekspansi AI Jadi Pertimbangan The Fed
"Data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas ekonomi yang kuat, tetapi tekanan inflasi masih berlanjut," ujar Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.
Lyngen menilai pertumbuhan ekonomi AS juga ditopang ekspansi infrastruktur AI dan konsumsi masyarakat.
Pandangan senada disampaikan Eli Nir dan Oscar Munoz dari TD Securities. Keduanya menyebut AI masih menjadi tema utama yang mendorong aktivitas ekonomi, meski ketahanan ekonomi AS juga terlihat secara luas di berbagai sektor.
Tekanan inflasi yang berkaitan dengan ekspansi AI, menurut mereka, turut menjelaskan keputusan The Fed menaikkan penilaian terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus tetap memberi perhatian besar pada pengendalian inflasi.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Kembali Terbuka
Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett mengisyaratkan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga apabila data inflasi Oktober menunjukkan kenaikan tinggi.
"Jika angka inflasi Oktober ternyata sangat tinggi, saya pikir The Fed kemungkinan akan mengambil langkah yang tepat dengan bertindak," kata Hassett kepada Bloomberg Television.
Di Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde meredam kekhawatiran mengenai risiko meluasnya inflasi di luar sektor energi. Pernyataannya muncul setelah kabar rencana pengunduran diri lebih awal membayangi keputusan ECB mempertahankan suku bunga.
Bagi investor Indonesia, kombinasi koreksi saham teknologi AS dan sinyal suku bunga yang belum sepenuhnya turun berpotensi menahan aliran modal ke aset berisiko di pasar berkembang. Pemantauan arah imbal hasil Treasuries dan data inflasi Oktober menjadi kunci sebelum membuka posisi baru.