MEDIALOKAL.CO — Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026. Prediksi itu muncul saat inflasi September 2026 naik ke 3,28% secara tahunan, mendekati batas atas target BI 3,5%. Tekanan terhadap rupiah menjadi pertimbangan utama di balik proyeksi tersebut.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menyatakan bank sentral kemungkinan menahan suku bunga sambil tetap bersiap merespons jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat. Proyeksi itu disampaikan dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu (21/10/2026).
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan Suku Bunga BI di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap Rupiah semakin meningkat," ujar Teuku Riefky.
Inflasi September 2026 Naik ke 3,28%
LPEM FEB UI mencatat inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,28% secara tahunan pada September 2026, dari 3,19% pada Agustus 2026. Angka itu mendekati batas atas target inflasi BI sebesar 3,5%.
Posisi inflasi yang sudah dekat dengan batas atas memberi ruang gerak terbatas bagi BI untuk melonggarkan kebijakan. Di saat yang sama, pelemahan rupiah menuntut suku bunga tetap tinggi agar imbal hasil aset domestik tetap kompetitif.
Dilema Kebijakan di Tengah Tekanan Eksternal
Menurut LPEM FEB UI, BI menghadapi dilema kebijakan di tengah tekanan eksternal dan risiko inflasi domestik yang memperumit prospek makroekonomi. Pengetatan moneter lebih lanjut dapat membantu meredam tekanan nilai tukar, tetapi juga membebani permintaan domestik.
Dua arah kebijakan itu sama-sama membawa konsekuensi. Menahan atau menaikkan suku bunga menjaga stabilitas kurs, namun berisiko menekan konsumsi rumah tangga dan belanja dunia usaha. Sebaliknya, pelonggaran bisa mendorong pertumbuhan, tetapi memperlebar tekanan pada rupiah dan inflasi.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis
Jika BI benar-benar menahan suku bunga di 5,75%, imbal hasil obligasi negara dan surat utang korporasi diperkirakan bertahan di level saat ini. Bagi investor pasar saham, level suku bunga yang tidak berubah memberi kepastian biaya modal jangka pendek, meski ruang penguatan indeks tetap dibatasi oleh sentimen eksternal.
Pelaku bisnis yang bergantung pada kredit berbunga mengambang perlu mencermati arah RDG. Penundaan penurunan suku bunga berarti biaya bunga pinjaman belum akan turun dalam waktu dekat, sementara sektor yang sensitif terhadap konsumsi domestik menghadapi risiko permintaan yang lebih lemah.
LPEM FEB UI tidak menyebut besaran proyeksi nilai tukar rupiah dalam keterangannya. Proyeksi suku bunga tersebut bersifat perkiraan lembaga riset, bukan keputusan resmi Bank Indonesia yang baru akan ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026.